Konferensi Our Ocean di Bali, Oceana Dukung Upaya Pengurangan Produksi Plastik

Oceana mdukung upaya transparansi perikanan dunia dan pengurangan produksi plastik pada konferensi Our Ocean di Bali, Indonesia.

Konferensi Our Ocean di Bali, Oceana Dukung Upaya Pengurangan Produksi Plastik
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Jacqueline Savitz, Oceana Chief Policy Officer, Andrew Sharpless, Oceana Chief Executive Officer, Nadine Chandrawinata, public figure, ocean advocate & Oceana celebrity supporter, Joshua Jackson, actor, ocean advocate & Oceana celebrity supporter di acara Media Workshop Oceana di Nusa Dua, Bali. 

TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA – Organisasi konservasi laut global, Oceana mendukung sepenuhnya upaya peningkatan transparansi perikanan dunia dan pengurangan produksi plastik pada konferensi Our Ocean di Bali, Indonesia.

Baca: Senam AW S3 Peringati Hari Pahlawan dan Puputan Margarana

Baca: Dihantam Yamaha Vixion, Nyawa Pekak Ketut Kenyab Melayang, Terpental 5 Meter

Baca: Jadi Pembicara Seminar, IG Agung Putri Ajak Mahasiswa Perangi Korupsi

Baca: Peringati Hari Sumpah Pemuda, Banyuwangi Beri Penghargaan pada Pemuda Berprestasi

Konferensi ini akan berlangsung pada 29 - 30 Oktober di Nusa Dua, menghadirkan pemimpin dari seluruh dunia untuk membuat komitmen nyata dan yang dapat diterapkan untuk menjaga dan menyelamatkan lautan kita.

Sejak 2014, konferensi Our Ocean telah menghasilkan dana sebanyak $18 milliar dollar untuk konservasi dan telah melindungi lebih dari 12 juta kilometer persegi lautan.

Partisipasi Oceana dalam konferensi tersebut sebagai komitmen untuk menyelamatkan lautan kita dari ancaman penangkapan ikan berlebihan, penangkapan ikan ilegal, dan yang menghancurkan habitat.

"Kita telah membuat polusi pada lautan kita, mengambil ikan berlebihan, dan membunuh terlalu banyak spesies berharga dan kehidupan di bawah laut," ungkap Joshua Jackson, Aktor dan Aktivis Laut, Minggu (28/10/2018), Media Workshop, di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort.

Menurut Oceana, terdapat sekitar sepertiga dari stok ikan dunia yang telah ditangkap secara berlebihan.

Bajak laut modern terus menjarah lautan kita, mengancam negara-negara yang bergantung pada makanan laut sebagai sumber utama protein mereka.

Metode penangkapan ikan yang merusak seperti pukat harimau (bottom trawling) terus merusak karang-karang yang sudah berumur lama dan spesies di bawahnya.

Nelayan terus membuang makanan laut dan satwa liar yang secara tidak sengaja ditangkap sebagai umpan.

Kehidupan laut yang penting, seperti hiu terus-menerus menurun jumlahnya akibat dari penangkapan ikan hiu yang berlebihan serta praktik pemotongan sirip ikan hiu yang brutal dan membuang tubuh ikan hiu di laut.

Halaman
123
Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved