Merayakan Pertukaran Ide dan Gagasan di Tahun ke-15 Ubud Writers & Readers Festival

UWRF telah menjadi wadah bagi para penulis, seniman, sutradara, pegiat, dan cendekiawan dari seluruh dunia untuk merayakan gagasan,

Merayakan Pertukaran Ide dan Gagasan di Tahun ke-15 Ubud Writers & Readers Festival
Istimewa
Pada Kamis (25/10/2018) di Neka Museum, UWRF dibuka dengan sambutan dari Susi Pudjiastuti. 

Para penyair dari generasi berbeda ini mengungkapkan sumber inspirasi penciptaan puisi, penemuan jati diri lewat puisi, hingga isu-isu menarik yang bisa diolah menjadi sebuah puisi.

Pada Jumat (26/10/2018), UWRF menghadirkan sesi Twenty Years Later bersama penyair sekaligus pegiat asal Bali Saras Dewi dan Presiden Direktur Mizan Group sekaligus penulis buku Islam: The Faith of Love and Happiness Haidar Bagir.

Sesi ini secara khusus mendiskusikan mengenai hal-hal yang belum berhasil dicapai Indonesia dalam era reformasi, kebebasan politik di Indonesia, hingga tingginya tingkat intoleransi di negeri kita tercinta.

Sesi Envolving Islam yang menghadirkan Janet Steele, Sidney Jones, Haidar Bagir, dan Dina Zaman juga cukup menyita perhatian. Pembahasan mengenai kemiripan dan perbedaan Islam di Indonesia dan Malaysia hingga kebijakan politik yang dibuat berdasarkan Islam didiskusikan secara mendalam oleh para pembiacara ahli tersebut.

Di samping pembahasan politik dan agama, para pencinta film juga cukup dimanjakan dengan sesi mengenai film, yaitu sesi The Seen and Unseen bersama sutradara berbakat Kamila Andini.

Sesi yang dimoderatori oleh Uphie Abdurrahman ini mengulik alasan Kamila membuat film yang emosional dan menyentuh hati, tema serta visualisasi film Sekala Niskala, hingga perjalanannya dalam mendanai film tersebut.

Pada Sabtu (27/10/2018), UWRF menggelar sesi The Pledge di Taman Baca bersama peraih Online Indonesian Language Reviewer Award dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Ivan Lanin, penulis esai berbahasa Inggris In The Hands Of a Mischievous God Theodora Sarah Abigail, penulis sekaligus pendiri Comma Books Rain Chudori, penulis Myth, Magic dan Mystery in Bali Jean Couteau.

Sesi ini mengulik penyebab kesalahan berbahasa hingga banyaknya generasi muda Indonesia yang kini lebih memilih untuk bercakap dalam bahasa asing di kehidupan sehari-hari mereka.

“Akan sangat tepat jika di Indonesia ini diterapkan perencanaan bahasa. Karena tanpa perencanaan bahasa, membiarkan orang berbahasa seenaknya seperti membiarkan orang mengemudi seenaknya, ujar Ivan Lanin.

“Para milenial menganggap rendah bahasa Indonesia dan bahasa daerah karena mereka tidak tahu apa yang bisa dibanggakan dari bahasa tersebut. Untuk itu, kita harus mengingatkan kembali bahwa bahasa kita pantas untuk dicintai. Tidak hanya membuat mereka peduli pada bahasa kita tetapi yang juga kepada negara kita,” sambung Theodora Sarah Abigail.

Halaman
1234
Penulis: Karsiani Putri
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved