Roby Navicula: Sudah Saatnya Kita Tidak Jadi Jagoan Kandang

Navicula menggebrak panggung Maker Fest 2018 dengan lagu pembuka berjudul Everyone Goes to Heaven

Roby Navicula: Sudah Saatnya Kita Tidak Jadi Jagoan Kandang
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Penampilan Navicula dalam acara Maker Fest 2018 di lapangan timur Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu (3/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Navicula menggebrak panggung Maker Fest 2018 dengan lagu pembuka berjudul Everyone Goes to Heaven.

"Lagu ini bercerita bahwa bumi ini luas dan surga terlalu luas untuk satu umat," katanya yang disambut teriakan penonton di Lapangan Puputan Renon, Sabtu (3/11/2018) malam.

Penonton yang semula duduk di sekitar panggung seketika mendekat pada hentakan musik pertama.

Tepuk tangan penonton pun menyambut penampilannya.

Lagu keduaberjudul Aku Bukan Mesin, ia persembahkan untuk para pekerja, buruh, petani, maupun nelayan.

"Bangsa Indonesia hari ini hanya pencitraan ke dalam, Bangsa Indonesia butuh pencitraan ke luar agar setara dengan negara-negara maju dengan memperkenalkan produk-produk kita," kata Roby.

Kekayaan Indonesia menurutnya adalah keanekaragaman kuliner, beranekaragam karena kekayaan hayati flora fauna.

"Bahasa kita sangat beraneka ragam ini slogan yang diikrarkan adalah slogan yang bernama Bhinneka Tunggal Ika. Bukan sekadar menghafal tapi memahaminya, itu yang jadi nation branding kita. Bhinneka Tunggal Ika artinya warna warni kita menjadi satu," katanya sembari menyanyikan lagu Busur Hujan.

Ia melanjutkan disela-sela lagunya, "Sudah saatnya kita tidak jadi jagoan kandang, tapi bertarung di kancah internasional."

Single Ibu yang masuk dalam album kesembilan yang akan dilaunching beberapa hari kedepan, juga dinyanyikan.

"Kami dedikasikan untuk ibu pertiwi, terinsipirasi dari bagaimana Dewa Wisnu berubah jadi babi bernama Waraha. Ia mengeruk tanah dengan nafsu animal insting," katanya.

Dilanjutkannya, saat menggali tanah Waraha bertemu figur Ibu Pertiwi, ibu pertiwi disetubuhi dan bunting kemudian lahirlah Bomantara.

"Bahwa Wisnu dewa air hujan, ketemu Ibu Pertiwi dewi tanah maka lahirlah Bomantara yang menjadi dewa hutan. Tumbuhlah tanaman yang namanya hutan," paparnya.

Ia juga membawakan lagu Saat Semua Semakin Cepat Bali Berani Menyepi, dan Mafia Hukum yang mengajak penonton melompat-lompat.

Sebagai lagu pamungkas ia menyanyikan lagu berjudul Metro Polutan. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved