Dharma Wacana

Fenomena Pemangku Selingkuh, Begini Pandangan Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

Mangku atau Pemangku merupakan tokoh suci umat Hindu di Bali. Mangku dalam hal ini, bukan hanya ujang banggul di Pura Kahyangan Tiga, Pura Dadia

Fenomena Pemangku Selingkuh, Begini Pandangan Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, - Mangku atau Pemangku merupakan tokoh suci umat Hindu di Bali. Mangku dalam hal ini, bukan hanya ujang banggul  di Pura Kahyangan Tiga, Pura Dadia, dan sebagainya.

Namun terdapat juga Mangku Dalang, Mangku Tukang dan sebagainya, yang bertugas sebagai pengantar bakti dan menurunkan waranugraha Ida Sang Hyang Widhi pada umat.

Di tengah pentingnya peran pemangku terhadap kehidupan spiritual masyarakat, tak jarang juga ditemukan adanya pemangku yang berprilaku menyimpang, seperti mangku yang suka selingkuh.

Apa dampak yang terjadi di masyarakat, jika ritualnya dipimpin oleh pemangku jenis ini?

Ketika kita berbicara masalah kedudukan dan fungsi, pemangku sendiri secacara umum memiliki posisi sebagai ujang banggul Ida Sang Hyang Widhi.

Ketika menjadi ujang banggul, umat telah memposisikan beliau sebagai pengantar bakti umat pada Tuhan. Serta, menurunkan waranugraha Ida Sang Hyang Widhi.

Kita ketahui bersama, Tuhan adalah kesucian. Jadi, siapapun yang menjadi median menurunkan berkah Tuhan, ia juga harus suci.

Suci dalam hal ini, tidak hanya dari segi aspek upacara pawintenan saja. Tapi harus suci secara perilaku, perkataan dan pemikiran.

Namun saat ini, tidak sedikit orang berpikir, kesucian itu akan terwujud jika dia sudah mawinten. Pemahaman ini kerap menjadikan seseorang menjadi egois, “Saya sudah jadi pemangku, maka saya boleh berhubungan dengan siapapun,”.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved