Dharma Wacana

Desa Pakraman Wajar Pungut Retribusi

Berbicara masalah pungutan retribusi obyek pariwisata ataupun pendatang, saya tetap menganggap hal tersebut wajar.

Desa Pakraman Wajar Pungut Retribusi
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

Oleh  Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, -- Berbicara masalah pungutan retribusi obyek pariwisata ataupun pendatang, saya tetap menganggap hal tersebut wajar. Hal ini menjadi masalah, karena hukum positif tidak tahu permasalahan desa pakraman.

Kita di desa pakraman selalu mengusung konsep Tri Hita Karana. Kalau kita kembali pada kosep teologi, filosofi dan ketuhanan, desa pakraman itu merupakan pusat surgawi, yang harus selalu dijaga kesuciannya melalui ritual.

Desa pakraman merupakan sebuah mandala (pusat) yang pada sistemnya ada kesucian, dibangun dengan cara-cara suci. Orang yang tinggal di sana harus suci.

Maka dari itu, desa pakraman selalu melakukan upacara penyucian dalam hari-hari tertentu, dan saat ada tindakan yang tak sesuai dengan kesucian. Seperti, kekerasan hingga berdarah-darah, perselingkuhan, apalagi perselingkuhan itu dilakukan oknum jro mangku. Sebab, perilaku seperti itu dalam ajaran Hindu disebut ‘ngeletehin gumi’.

Apalagi, ketika suatu obyek yang ada di desa pakraman itu dijadikan destinasi pariwisata, maka ritualnya akan semakin sering lagi dilakukan. Sebab ada orang luar desa pakraman, dalam hal ini wisatawan, yang datang menikmati destinasi itu. Terlebih destinasi ini berupa pura atau tempat suci.

Sebab, tidak ada jaminan mereka yang datang ini mau menuruti aturan untuk tidak mencemari kesucian. Misalnya, saat menstruasi tidak boleh masuk ke areal tersebut, tidak boleh berkata jorok, kasar dan sebagainya.

Apakah ada jaminan mereka menuruti aturan ini?

Kita kan tidak diberikan jaminan oleh travel agent terkait hal ini. Apalagi, selama ini sudah sering terjadi adanya wisatawan yang bertindak semena-sema di pura.

Bahkan sampai duduk di tempat yang disakralkan. Karena ketidakpastian akan kesucian wisatawan ini, desa pakraman melakukan ritual penyucian dengan cara menggelar upacara keagamaan. Dan, tentunya itu membutuhkan biaya.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved