Dharma Wacana

Desa Pakraman Wajar Pungut Retribusi

Berbicara masalah pungutan retribusi obyek pariwisata ataupun pendatang, saya tetap menganggap hal tersebut wajar.

Desa Pakraman Wajar Pungut Retribusi
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

Selama ini, pemerintah sebagai pihak yang ikut menikmati gemerincing dolar ini, apakah memikirkan soal cara menjaga kesucian ini? Apakah mereka pernah membiayai sendiri odalan itu?

Selama ini, tetap desa pakraman yang melakukannya, menggunakan uangnya sendiri. Meskipun ada bantuan dari pemerintah dalam bentuk hibah, itukan hanya bersifat fisik dan jumlahnya juga terbatas. Desa pakraman lah yang melakukan upacara-upacara untuk menjaga kesucian.

Lalu biaya ngodalin, mecaru dan sebagainya yang menghabiskan biaya jutaan rupiah, itu datangnya dari mana?

Di sinilah diperlukan penarikan retribusi oleh desa pakraman supaya mereka memiliki modal untuk memelihara kesucian dan memelihara destinasi tersebut.

Dengan mempidanakan pengutan retribusi pariwisata ini, apa sejatinya yang diinginkan? Apakah pemerintah ini membebankan biaya upacara pada masyarakat, dengan cara iuran?

Kalau  hal ini terjadi, inilah yang disebut ‘masyarakat Bali menjadi budak di rumah sendiri’. Mereka yang bekerja keras, orang lain yang menikmati hasilnya.

Marilah tokoh-tokoh desa pakraman membahas ini, dan bicarakan dengan Parisada Hindu Dhama Indonesia (PHDI). Sebab, parisada sudah memiliki payung hukum terhadap retribusi ini. Yakni dalam bentuk dana punia.

Dan tak kalah pentingnya, marilah majelis desa pakraman mulai mengeratkan kerjasama dengan PHDI untuk menguatkan adat.

Selama ini, lembaga desa pakraman ini hanya tajam ke dalam, tapi tumpul ke luar. Ketika kita menghadapi permasalahan seperti ini, saya kok tidak mendengar tokoh-tokoh yang duduk di majelis desa pakraman berbicara.

Mari kita kerjasama, bersinergi. Saya sebagai orang parisada merasa sangat prihatin. Apalagi, parisada sangat sulit sekali berkomunikasi dengan majelis desa pakraman. Hubungannya hanya bersifat parsial, yakni bertemu di pura. Untuk membahas hal-hal yang krusial dalam ranah desa pakraman, parisada tidak dilibatkan.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved