Breaking News:

YY Diaz Center Pacu Budaya Literasi Politik Lewat Teras Dialog

Polarisasi opini publik menjelang momen Pileg dan Pilpres 2019 mulai meningkat, terlebih di media sosial.

Penulis: eurazmy
Editor: Rizki Laelani
TRIBUN BALI/EURZAMY
Teras Dialog #2 menghadirkan empat narasumber ternama membahas iklim politik di revolusi industri 4.0. Bertempat di YY Diaz Center, Warung Sang Dewi, Renon, Denpasar, Sabtu (17/11/2018) malam. 

YY Diaz Center Pacu Budaya Literasi Politik Lewat Teras Dialog

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Polarisasi opini publik menjelang momen Pileg dan Pilpres 2019 mulai meningkat, terlebih di media sosial.

Parahnya, polarisasi ini dikhawatirkan berujung pada konflik horizontal hanya gara-gara perbedaan ekspresi politik.

Ini menunjukkan bahwa literasi politik masyarakat masih harus ditingkatkan kembali.

Berangkat dari hal itulah, Politisi dari Partai Gerindra, Yosep Yulius Diaz menggelar acara teras dialog di YY Diaz Center, Warung Sang Dewi, Jalan Tukad Musi, Renon, Denpasar, Sabtu (17/11/2018) malam.

Baca: Mimpi Juara Baru Tanpa Intrik

Baca: Ini Syarat Berat yang Harus Dijalani Bali United untuk Bisa Juara Liga 1 2018

Baca: Senasib dengan Persib, PSM, dan Persija, Bali United pun Jadi Korban Keganasan Persebaya

Baca: 2 Kali Suara Tembakan Menyalak, Sopir Mobil Sriwijaya Air Terus Tancap Gas Masuk Tol

Mengambil tema 'Mengubah Tantangan menjadi Harapan, Bersukacita menyambut Pesta Pemilu 2019', menjadi ajang membangun literasi politik masyarakat Bali dengan tujuan menciptakan iklim politik yang sehat.

Pria yang maju menjadi calon legislatif DPRD Provinsi Bali ini mengatakan, Teras Dialog menjadi satu cara pemberdayaan politik dalam menghadapi era revolusi industri 4.0.

Namun, kemajuan ini nyatanya tidak dibarengi dengan peningkatan literasi politik, sehingga memunculkan polarisasi opini yang justru mengarah pada reproduksi hoaks, diskriminasi, SARA, hingga ujaran kebencian.

"Tentu kondisi itu sangat kami sayangkan. Melalui ruang dialog inilah, dengan bertemu langsung di dunia nyata punya makna positif," terangnya kepada Tribun-Bali.com.

"Memacu munculnya gagasan-gagasan yang konstruktif menciptakan iklim politik yang kondusif dan damai dan mengeliminasir ekspresi politik yang tak substantif," tambahnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved