Kisah Wayan Kunak, Pencari Kepiting yang Tangkapannya Menurun Sejak Bakau Tercemar

Air tampak mengalir lambat di sela-sela pohon mangrove yang berada di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ngurah Rai

Kisah Wayan Kunak, Pencari Kepiting yang Tangkapannya Menurun Sejak Bakau Tercemar
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Wayan Kunak saat menujukkan hasil tangkapan udang di kawasan Taruha Ngurah Rai, Suwung, Denpasar pada Kamis (22/11/2018). 

Tiga buah udang tangkapan itu ia masukkan ke kantong celana.

Sebelum membenamkan diri di kubangan air tersebut, Kunak menceritakan bahwa ia sempat melihat seekor belut yang besar.

Ia pun mencoba menangkap belut itu dan ditebasnya menggunakan kapak yang dibawanya.

Belut itu luka parah, namun akhirnya berhasil kabur.

Kunak pun mencari belut itu, namun setelah sekian lama tak jua muncul, hingga ia memutuskan untuk mencari udang.

Meski sedang mencari udang, ternyata bukan itu tujuan utamanya datang ke Tahura.

Lelaki yang memang tinggal tak jauh dari kawasan mangrove itu sebenarnya memasang perangkap kepiting di sela-sela bakau.

Total ada sebanyak 16 bubu, sebutan lain dari perangkap yang ia pasang waktu itu.

Bubu itu dibuat dari bambu yang dianyam seperti keranjang dan di dalamnya berisi umpan agar kepiting masuk perangkap.

Kunak biasa menggunakan umpan daging ayam.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved