Kisah Wayan Kunak, Pencari Kepiting yang Tangkapannya Menurun Sejak Bakau Tercemar

Air tampak mengalir lambat di sela-sela pohon mangrove yang berada di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ngurah Rai

Kisah Wayan Kunak, Pencari Kepiting yang Tangkapannya Menurun Sejak Bakau Tercemar
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Wayan Kunak saat menujukkan hasil tangkapan udang di kawasan Taruha Ngurah Rai, Suwung, Denpasar pada Kamis (22/11/2018). 

Satu kilo daging ayam biasanya habis digunakan untuk dua kali pasang perangkap sebanyak 16 buah.

Memasang bubu memang kegiatan yang telah lama ia lakoni, bahkan sejak masih aktif menjadi nelayan.

Kunak awalnya memang seorang nelayan, namun karena sudah berumur ia memutuskan tak lagi melaut.

"Saya memang penghidupannya di laut. Sekarang sudah tua, tidak bisa lagi. Urus cucu saja di rumah," tuturnya.

Dari hasil memasang bubu ini, ternyata tak banyak yang bisa diharapkan oleh Kunak.

Dari 16 bubu yang ia pasang, rata-rata hanya bisa menjerat dua sampai tiga ekor kepiting.

Hal ini, kata dia, disebabkan karena berkurangnya populasi kepiting di kawasan tersebut.

Pria yang tinggal di Banjar Kajeng, Desa Pakraman Kepawon, Suwung, Denpasar ini menilai berkurangnya populasi kepiting karena ada pencemaran yang terjadi di kawasan bakau.

Menurutnya, berkurangnya populasi kepiting ini sudah terjadi sejak lama, bahkan dari sekitar tahun 1990an.

Padahal dahulu saat populasi kepiting masih banyak, ia bisa memasang bubu hingga 22 buah dan bisa mendapatkan kepiting hingga 30 ekor.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved