Kisah Wayan Kunak, Pencari Kepiting yang Tangkapannya Menurun Sejak Bakau Tercemar

Air tampak mengalir lambat di sela-sela pohon mangrove yang berada di kawasan Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ngurah Rai

Kisah Wayan Kunak, Pencari Kepiting yang Tangkapannya Menurun Sejak Bakau Tercemar
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Wayan Kunak saat menujukkan hasil tangkapan udang di kawasan Taruha Ngurah Rai, Suwung, Denpasar pada Kamis (22/11/2018). 

Keadaan itu berbanding terbalik saat ini yang hanya memasang 16 bubu.

Kepiting yang didapatkan hanya berkisar 2-3 ekor.

"Dapat sekilo, kalau ukuran yang besar bisa isi tiga kalau sekilo," jelasnya.

Baru-baru ini, Kunak menceritakan, sempat mendapatkan kepiting dari hasil memasang bubu sebanyak 16 ekor.

Namun semenjak itu, tangkapannya terus merosot hingga sekarang.

Hasil dari tangkapannya itu ia jual kepada pengepul yang mencari ke rumahnya, dan satu kilo kepiting bisa dijual dengan harga Rp 80 ribu.

Baginya, meski harganya yang cukup bersahabat, proses penangkapan kepiting ini lumayan sulit.

Mulai dari memasang bubu saat sore hari hingga harus menunggunya keesokan hari.

Kunak menjelaskan alasannya memasang bubu saat sore hari karena kepiting akan keluar pada malam hari untuk mencari makan.

Ia juga mengaku sedikit kesulitan membaca jalur-jalur yang dilalui kepiting, karena kepiting biasanya akan mencari ujung dari pasang air pada waktu malam hari.

Dijadikan Taman dan Pusat Studi

Tercemarnya lingkungan bakau di seputaran Tahura terutama Tahura Ngurah Rai juga disadari oleh pemerintah.

Oleh karena itu, Gubernur Bali Wayan Koster sempat membicarakan masalah perlindungan hutan mangrove ini dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Senin (5/11/2018) lalu.

Dari hasil pertemuan itu, Gubernur Koster berkeinginan untuk membangun taman mangrove, yang salah satunya akan difungsikan sebagai pusat studi mangrove.

Wacana ini juga sempat dilontarkan oleh Gubernur Koster usai menghadiri sidang paripurna DPRD Bali pada Selasa (6/11/2018) kemarin.

Menurutnya, kawasan yang akan dijadikan pusat studi mangrove diantaranya kawasan Tanah Hutan Rakyat (Tahura), termasuk di Teluk Benoa.

Kawasan tersebut, kata Koster, milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) namun yang akan mengelola kedepannya adalah Provinsi Bali melalui unit pelaksana.

"Saya sudah bicara dengan Menteri Kehutanan waktu acara Menteri Lingkungan Hidup Sedunia. Beliau sangat mendukung bahkan bapak presiden juga mengarahkan seperti itu," terangnya.

Hal ini, kata dia, juga dikerjasamakan dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan KLHK dengan membentuk desain taman mangrove, agar nantinya saat dijadikan sebagai pusat studi dapat terlihat bagus. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved