Kebutuhan Darah di Bali Capai 50 Ribu Kantong Setiap Tahun, PMI Kesulitan Dalam Pengolahan

Kebutuhan darah di Bali selama setahun ternyata cukup tinggi yakni sebanyak 50 ribu kantong per tahun

Kebutuhan Darah di Bali Capai 50 Ribu Kantong Setiap Tahun, PMI Kesulitan Dalam Pengolahan
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Gubernur Bali, Wayan Koster (tengah), Kepala Bidang Organisasi PMI, Sasongko Tedjo (kiri) dan Ketua Pengurus PMI Provinsi Bali, I Gusti Bagus Alit Putra (kanan), saat hadir di acara pembukaan Musyawarah Kerja Provinsi (Mukerprov) PMI Provinsi Bali, di Quest San Hotel pada Kamis (29/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kebutuhan darah di Bali selama setahun ternyata cukup tinggi yakni sebanyak 50 ribu kantong per tahun.

Kondisi ini dipersulit dengan diputuskannya bantuan berupa materi pengolahan darah oleh Kementerian Kesehatan RI, sehingga memberatkan anggaran operasional PMI.

Ketua Pengurus PMI Provinsi Bali, I Gusti Bagus Alit Putra mengatakan, guna mengatasi permasalahan ini dirinya akan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

"Untuk mengolah itu, lumayan dananya untuk kesehariannya. Perlu juga kami sampaikan ke pusat bahwa cukup berat ini," jelasnya saat memberikan sambutan pada acara Musyawarah Kerja Provinsi (Mukerprov) Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali, di Quest San Hotel pada Kamis (29/11/2018).

Sementara itu, Gubernur Bali, Wayan Koster telah menghitung kebutuhan anggaran yang diperlukan PMI Bali dalam melakukan pengolahan darah.

"Pengolahan darah Rp 360 ribu per kantong, sehingga memerlukan biaya Rp 1,8 miliar," kata Gubernur Koster saat membuka acara Mukerprov tersebut.

Baginya, anggaran rutin pemerintah Provinsi Bali berupa hibah sebanyak Rp 2 miliar dirasa memang tidak cukup untuk PMI.

"Sekarang rutin diberi hibah Rp 2 miliar. Kedepan minimum anggarannya Rp 4 miliar," kata Gubernur Koster menegaskan.

Dirinya pun membayangkan bahwa kedepan pada tahun 2020 anggaran akan ditingkatkan untuk PMI sehingga menjangkau untuk pengolahan darah.

"Saya janji, antara Rp 4 sampai 5 miliar untuk tahun 2020. Ini penting, kantornya, sarana prasarananya, unit transfusi darahnya, pendidikan dan pelatihannya," terang Koster. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved