Serba Serbi

Kini Digandrungi Ibu-ibu Zaman Now, Ini Sejarah Tari Rejang Renteng

Saat ini Tari Rejang Renteng seolah-olah jadi trend di kalangan ibu-ibu zaman now

Kini Digandrungi Ibu-ibu Zaman Now, Ini Sejarah Tari Rejang Renteng
Tribun Bali/I Putu Supartika
Workshop Tari Rejang Renteng yang digelar WHDI Kota Denpasar di Kantor Disbud Kota Denpasar, Minggu (9/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Saat ini Tari Rejang Renteng seolah-olah jadi trend di kalangan ibu-ibu zaman now.

Bahkan, di setiap odalan di beberapa daerah ada yang menarikan Rejang Renteng ini.

Tak jarang beberapa daerah di Bali juga melaksanakan pementasan Rejang Renteng massal.

Lalu bagaimana sejarah kelahiran tari ini?

Dalam workshop Tari Rejang Renteng yang digelar WHDI Kota Denpasar di Kantor Disbud Kota Denpasar, pembicara Ida Ayu Made Diastini mengungkapkan, pada tahun 1999 tarian ini berhasil dikembangkan oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) Provinsi Bali dalam rangka upaya melestarikan tarian langka.

"Rejang Renteng sendiri merupakan pengembangan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali pada tahun 1999 yang terinspirasi dari tarian Renteng di Desa Adat Saren, Nusa Gede, Nusa Penida. Menurut penjelasan tim peneliti Disbud Bali pada saat itu, mereka hanya mengikuti tarian para pemangku yang sedang ngayah Ngerenteng di Pura Dalem Ped," kata Diastini, Minggu (9/12/2018).

Ia menambahkan, gerakan yang ada di dalam Renteng tersebut hanya ada pada pengawak saja dan itupun gerakannya dilakukan berulang-ulang membentuk pola lantai lurus ke belakang dengan jumlah ganjil, berputar membentuk lingkaran dengan gerakan yang sederhana yang diulang-ulang sampai terakhir menuju ke luar pura.

Sedangkan gerakan pepeson yang ada dalam Tari Rejang Renteng hari ini, pepesonnya diambil dari gerakan Mendet dalam Tari Wali.

Untuk pengawak pada gerakan Tari Rejang Renteng yang sekarang diambil dari gerakan asli Renteng tersebut, dan pekaadnya diulang kembali gerakan pada pepeson dan pengembangan dari gerakan-gerakan Rejang Dewa.

Halaman
1234
Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved