Langoning Idep Pukau Penonton Bali Mandara Nawanatya III, Ajak Semua Kembali Merenung

Pementasan karya seni berjudul 'Langoning Idep' yang digawangi Rumah Budaya Penggak Men Mersi sukses memukau penonton Bali Mandara Nawanatya III

Langoning Idep Pukau Penonton Bali Mandara Nawanatya III, Ajak Semua Kembali Merenung
Tribun Bali/M Ulul Azmy
Pementasan bertajuk Langoning Idep garapan Rumah Budaya Penggak Men Mersi sukses pukau penonton dalam acara penutupam Bali Mandara Nawanatya III di gedung Art Centre Denpasar, Sabtu (8/12/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pementasan karya seni berjudul 'Langoning Idep' yang digawangi Rumah Budaya Penggak Men Mersi sukses memukau penonton dalam penutupan Bali Mandara Nawanatya 2018 di Art Centre, Denpasar, Sabtu (8/12/2018) kemarin.

Nada gamelan mengalun lembut mengawali pertunjukan.

Seiring itu, sejumlah aktor yang mewakili representasi manusia kiwari masuk dengan membawa topeng.

Selang lama kemudian, gerakan penari tampak makin ritmis diiringi tempo musik yang kalut.

Begitulah sedikit gambaran satu babak dari pementasan Langoning Idep.

Gamelan mengalun lembut pada pertengahan garapan dan diselingi dengan nyanyian gerong serta narasi dari I Gede Anom Ranuara sebagai dalang, mewujudkan betapa indahnya apabila manusia menyelam ke dalam getaran suara (genta hrdaya) serta cahaya (aji saraswati) yang sejatinya berstana di lubuk hati yang paling terdalam.

Pada akhirnya, suara dan cahaya itulah yang menuntun manusia menuju kesujatian jiwa (budhi satyam) yang diterjemahkan melalui adanya tari kreasi nan cantik, sekaligus mistik sebab beberapa gerakan penari wanita mengadopsi dari gerakan Tari Sang Hyang.

Makna pementasan ini, jelas dia, bahwa keberadaan manusia masa kini yang diselimuti topeng kebohongan diterjemahkan melalui gerakan penari yang nampak linglung dan mengenakan topeng.

Kelinglungan itu pun disebabkan karena sejatinya manusia masih berziarah dan menanyakan apa sejatinya kita dalam hidup di dunia ini.

“Itu adalah gambaran, sebuah simbol konsep zaman kekinian dimana manusia penuh kebohongan (topeng) yang dimakan oleh perilakunya sendiri. Ketika terjadinya zaman Kali kemana kita harus berlindung?,” tegas Kadek Wahyudita selaku konseptor garapan Langoning Idep kepada Tribun Bali ditemui usai pementasan.

Halaman
123
Penulis: eurazmy
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved