Serba Serbi

Seminggu Ini Pantang untuk Melakukan Hal-hal yang Berhubungan dengan Ikan

Selama seminggu ini dalam kalender Bali ada pertemuan antara Wuku Julungwangi dengan Ingkel Mina

Seminggu Ini Pantang untuk Melakukan Hal-hal yang Berhubungan dengan Ikan
Tribun Bali/Rizal Fanany
(Ilustrasi. Foto tidak terkait dengan berita) Jik Gus bersama rekannya mengecek kesehatan Ikan Koi di Griya Koi, Jalan Turi, Denpasar, Minggu (2/12/2018). Di Bali ikan koi mulai diminati, karena warna dan motif ikan yang indah. (Tribun Bali/Rizal Fanany) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selama seminggu ini, mulai dari Minggu (Redite) hingga Sabtu (Saniscara), 9-15 Desember 2018, seperti yang tertuang dalam kalender karya Alm. Drs. I Nyoman Singgir Wikarman, ada pertemuan antara Wuku Julungwangi dengan Ingkel Mina.

Perlu diketahui bahwa Alm. Drs. I Nyoman Singgir Wikarman semasih hidupnya sebagai anggota tim pengkaji wariga dan penyusunan kalender Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, dan kini kalendernya dilanjutkan oleh putra-putriya, I Gede Sutarya beserta adik-adiknya.

Kemudian dalam Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga, dituliskan bahwa pertemuan antara Wuku Julungwangi dengam Ingkel Mina dianggap sebagai sebuah pantangan untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan ikan.

Dalam susunan kalender Bali, memang dikenal istilah ala ayuning dewasa yang berarti baik-buruknya suatu hari dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tertentu.

Dewasa atau padewasan yang biasa disebut ilmu wariga ini, seperti yang dijelaskan dalam Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi adalah cara untuk mengidentifikasi hari yang baik dan hari yang jelek (buruk).

"Jelasnya (padewasan itu adalah) pengetahuan untuk menentukan hari baik dan hari jelek," tulis Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga dalam buku tersebut.

Cakupan mengenai ala ayuning dewasa ini sangatlah luas dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia melalui perhitungan parameter tertentu.

Perhitungan yang dimaksud berupa pawintangan yang ditetapkan berdasarkan letak bintang dalam mengelilingi matahari; sasih yang berhubungan dengan penentuan musim berdasarkan peredaran gerak semu matahari mengelilingi bumi dan bulan mengelilingi bumi; dan wuku tentang ilmu ruas-ruas kumpulan bintang tertentu yang berporos di bumi.

Selain itu, juga berpedoman pada wawaran yang berupa nama-nama hari dan dedaunan yakni ilmu pembagian waktu dalam satu hari.

Menurut Ida Pandita Empu Yogiswara di Griya Manik Uma Jati, ala ayuning dewasa ini memang tidak terlepas dari adanya wariga-wariga seperti wuku, ingkel dan di dalamnya terdapat larangan-larangan.

Ida Pandita pun menjelaskan bahwa ala ayuning dewasa ini juga tidak terlepas dari ala ayuning dina (hari), ala ayuning sasih (bulan) dan ada ala ayuning nyet (pikiran).

Jadi, meski ada larangan-larangan namun jika pelaksana kegiatan memiliki pemikiran yang positif maka hal tersebut boleh dilakukan.

"Sekarang ada ala ayuning nyet. Nyet itu pikiran. Kalau kita memang pikiran itu hening dan tidak akan kena apapun yang namanya musibah itu, itu boleh karena kita yakin," jelasnya.

Jadi meski hari ini terdapat larangan dalam hal-hal yang berhubungan dengan ikan, asalkan kita punya pikiran yang baik dalam melaksanakannya maka sah-sah saja untuk dilakukan. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved