Wacana Gedung Rumah Sakit hingga Sekolah Bisa Lebih Tinggi dari Pohon Kelapa

Saat ini bangunan tertentu mulai diwacanakan untuk bisa dikembangkan lebih tinggi lagi, seperti rumah sakit, kantor pemerintahan dan sekolah

Wacana Gedung Rumah Sakit hingga Sekolah Bisa Lebih Tinggi dari Pohon Kelapa
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Ketua Pansus Raperda RTRW, Ketut Kariasa Adnyana usai memimpin rapat pansus di Kantor DPRD Bali, Senin (10/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selama ini ketinggian bangunan di Bali dipatok hanya sampai 12 meter atau setinggi pohon kelapa.

Namun saat ini bangunan tertentu mulai diwacanakan untuk bisa dikembangkan lebih tinggi lagi, seperti rumah sakit, kantor pemerintahan dan sekolah.

"Contoh seperti Rumah Sakit Sanglah tidak mungkin dikembangkan melebar lagi," kata Ketua Pansus Raperda RTRW DPRD Bali, I Ketut Kariasa Adnyana.

Menurutnya, keberadaan rumah sakit, gedung pemerintah dan sekolah terutama perguruan tinggi diperlukan pengembangan untuk peningkatan kualitas SDM dan pelayanan.

"Ini yang menjadi pola pemikiran bisa ditingkatkan," kata Kariasa usai memimpin rapat raperda tersebut di Gedung DPRD Bali, Senin (10/12/2018).

Namun Kariasa belum bisa memastikan berapa ketinggian yang bisa diberikan dalam peningkatan gedung-gedung tersebut.

Menurutnya, bisa saja diberikan dua kali lipat atau juga dari 20 hingga 30 meter.

Dijelaskan Kariasa, hal inilah yang nantinya akan menjadi pembahasan Pansus Raperda RTRW berikutnya dengan mendengarkan masukan dari bupati/wali kota se-Bali, termasuk komponen masyarakat lainnya seperti pelaku pariwisata, penggiat lingkungan dan penilai tata ruang.

Sebelumnya, terdapat juga usulan dari salah satu anggota pansus mengenai pembangunan gedung diberi keleluasaan bisa turun ke bawah.

Menanggapi hal tersebut, Kariasa mengungkapkan bahwa dalam zonasi Raperda RTRW juga nantinya akan diatur terkait kedalaman bangunan.

"Ini kan tak mesti ke atas, ke bawah juga mesti ada pengaturan. Siapa tahu nanti dengan banyak teknologi sedalam-dalamnya, sehingga nanti ketika ada pengerukan ini berbahaya dengan adanya intrusi air laut," jelasnya.(*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved