Pemerintah Bali Siapkan Pergub Terkait Permasalahan Sampah Plastik

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyebut sampah plastik menjadi masalah yang dihadapi oleh dunia dan Bali

Pemerintah Bali Siapkan Pergub Terkait Permasalahan Sampah Plastik
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Wagub Cok Ace saat hadir dalam acara Simposium Suksma Bali 'Bali Meets Supporters', di Gedung Wiswa Sabha Utama Mandala Kantor Gubernur Bali pada Rabu (12/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyebut sampah plastik menjadi masalah yang dihadapi oleh dunia dan Bali.

"Ya itulah persolan, tidak saja Bali yang menghadapi, tapi dunia juga," kata Cok Ace saat ditemui Tribun Bali usai mewakili Gubernur Bali, Wayan Koster dalam membuka acara Simposium Suksma Bali 'Bali Meets Supporters', di Gedung Wiswa Sabha Utama Mandala Kantor Gubernur Bali pada Rabu (12/12/2018).

Ia juga menyebut bahwa beberapa daerah telah mulai berkemas-kemas untuk mengatasi permasalahan ini.

Nantinya, kata Cok Ace, Bali akan mempunyai Peraturan Gubernur (Pergub) untuk mengatasi permasalahan sampah plastik.

"Bahkan, saya melihat peraturan Kota Denpasar sudah keluar. Nah, ini sangat baik sekali. Kalau ada di tempat lain kenapa kita tidak tiru," kata Cok Ace.

Baginya permasalahan sampah platik ini memang sangat mengkhawatirkan, terlebih saat ini mulai berkembang juga keberadaan styrofoam.

Wagub Cok Ace mengapresiasi Paiketan Krama Bali dalam mendeklarasikan pengurangan penggunaan sampah plastik melalui momentum Simposium Suksma Bali.

"Ini sebagai ungkapan terima kasih untuk Bali yang tidak kita sadari bahwa kita yang mengotori," jelasnya.

Keberadaan pergub dalam mengatasi pengurangan sampah plastik nantinya diupayakan agar bisa mengubah gaya hidup masyarakat untuk tidak lagi menggunakan plastik dalam berbelanja.

Wagub Cok Ace menyontohkan, negara lain seperti Nepal dan Tibet bisa membawa barang-barang tidak menggunakan plastik, sehingga perlu dilakukan penyiapan tas-tas ramah lingkungan yang akan dibagikan.

"Kita mulai dari itu, biar ada perubahan cara pandang, perubahan gaya hidup masyarakat di sini. Ada kebanggaan ketika mereka bisa membawa sok-sok ke pasar atau penarak ke pasar, (dan) tidak usah membawa tas kresek," jelasnya. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved