Petani Memilih Budidaya Jeruk, Produksi Kopi Kintamani Merosot Saat Permintaan Tinggi

Banyak petani kopi di Kintamani yang semula membudidayakan pohon kopi, justru ditebang dan diganti dengan pohon jeruk

Petani Memilih Budidaya Jeruk, Produksi Kopi Kintamani Merosot Saat Permintaan Tinggi
Tribun Bali/Fredey Mercury
Kebun kopi milik Gusti Mangku Rupa, di Desa Catur, Kintamani, Bangli. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Banyak petani kopi di Kintamani yang semula membudidayakan pohon kopi, justru ditebang dan diganti dengan pohon jeruk.

Hal itu dinilai sebagai penyebab berkurangnya produksi kopi Kintamani di tengah permintaan pasar yang masih tinggi.

Seorang petani kopi asal Desa Catur, Kintamani, Gusti Mangku Rupa mengatakan tingginya harga kopi saat ini juga sangat dipengaruhi oleh merosotnya harga jeruk Kintamani lantaran produksi berlebih.

Ia mengungkapkan, sebelumnya banyak petani kopi yang sempat berharap mendapatkan keuntungan lebih besar dengan berproduksi jeruk.

Semula mereka menilai kopi hanya menghasilkan sekali dalam setahun, sedangkan jeruk bisa menghasilkan dua kali setahun.

“Namun keuntungan yang lebih menjanjikan juga tidak terlepas dari besarnya pengeluaran. Sebab biaya perawatan budidaya jeruk lebih tinggi apabila dibandingkan dengan budidaya kopi. Karena di jeruk banyak penyakit yang mengancam, belum lagi persaingan dari Bangli, maupun derah lain di Bali,” ujar Gusti Mangku Rupa.

Dengan pertimbangan banyaknya persaingan, serta harga kopi yang mulai membaik di pasaran, ia memprediksi tahun 2019 mendatang banyak petani yang semula beralih ke jeruk akan kembali lagi menanam kopi.

“Di kopi itu biaya perawatannya tidak terlalu tinggi. Di samping itu, para petani juga bisa menyetok produksi kopi sebelum ada harga. Dari segi ketahanan, kopi bisa disetok hingga tiga tahun lamanya,” imbuhnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved