Selama Tiga Tahun, Penyuluh Bahasa Bali Berhasil Identifikasi 25.106 Cakep Naskah Lontar

Mulai dari 2013 hingga 2016, Penyuluh Bahasa Bali di seluruh Bali telah berhasil mengidentifikasi sebanyak 25.106 cakep naskah lontar

Selama Tiga Tahun, Penyuluh Bahasa Bali Berhasil Identifikasi 25.106 Cakep Naskah Lontar
Tribun Bali/Putu Supartika
Ilustrasi lontar 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam kurun waktu tiga tahun, mulai dari 2013 hingga 2016, Penyuluh Bahasa Bali di seluruh Bali telah berhasil mengidentifikasi sebanyak 25.106 cakep naskah lontar.

Dari data itu juga dapat dilihat rinciannya berdasarkan jumlah masing-masing kabupaten.

Beradasarkan Laporan Hasil Kinerja Penyuluh Bahasa Bali tahun 2018 yang diterima oleh Tribun Bali, dapat diketahui bahwa identifikasi paling banyak didapatkan di Kabupaten Gianyar yaitu 7.309 cakep, lalu Tabanan sebanyak 3.515 cakep, serta Karangasem berjumlah 3.366 cakep.

Di Kabupaten Klungkung juga berhasil diidentifikasi sebanyak 2.899 cakep, Buleleng 2.554 cakep, Denpasar 1.190 cakep, Badung 1.648 cakep, Bangli 951 cakep dan Jembrana 674 cakep.

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali, I Nyoman Suka Ardiyasa mengatakan, temuan sebanyak 25 ribu lebih cakep lontar ini riil ditemukan.

Naskah lontar yang telah berhasil diidentifikasi sudah terdokumentasi dengan baik dalam bentuk katalog lontar yang berisi judul lontar, tempat penyimpanan lontar, nama pemilik lontar, kondisi naskah lontar, tebal naskah lontar, aksara yang digunakan, kalimat awal, kalimat akhir, sampai dengan identitas pengarang jika ditemukan dalam lontar tersebut.

"Jelas ada katalognya, judulnya bagaimana, kondisinya seperti apa, siapa pemiliknya, dimana lokasinya. Jelas sekali kita punya itu," terang Suka Ardiyasa saat ditemui Tribun Bali usai pembukaan Evaluasi Kinerja Penyuluh Bahasa Bali di Gedung Ksiarnawa Taman Budaya (Art Center) Denpasar pada Kamis (13/12/2018).

Dari hasil temuan tersebut, sebagian besar naskah lontar dalam kondisi tidak terawat.

Hal ini disebabkan karena minimnya pengetahuan masyarakat dalam merawat naskah lontar yang dimiliki.

Secara umum adapun naskah lontar yang ditemukan di masyarakat dapat diklasifikasi berupa tutur, kanda, wariga dan usada, geguritan, weda, babad, teks kakawin dalam bentuk lontar, dan lontar-lontar lainnya yang memiliki kekhasan tersendiri.

Kedepan naskah-naskah ini perlu dilakukan upaya penyelematan berupa konservasi, digitalisasi, sampai dengan penerjemahan, mengingat lontar yang tersebar di masyarakat tersebut tidak jarang memiliki pengetahuan yang sangat penting bagi masyarakat Bali. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved