Ketika Lontar Masih Jadi Benda ‘Tenget’ di Bali

Dari semua topik tersebut terdapat satu topik untuk mengetahui masyarakat terkait pengetahuannya terhadap lontar.

Ketika Lontar Masih Jadi Benda ‘Tenget’ di Bali
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Penyuluh bahasa Bali sedang mengidentifikasi koleksi lontar di Geriya Manduang, Klungkung. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Penyuluh bahasa Bali melakukan pemetaan eksistensi bahasa Bali dengan melakukan survei kepada masyarakat yang ada di wilayah desa atau kelurahan di Bali.

Melalui hasil pemetaan selama satu tahun, penyuluh bahasa Bali sudah mewawancarai masyarakat secara mendalam sebanyak 51.513 orang.

Dalam laporan hasil kinerja penyuluh bahasa Bali tahun 2018 dijelaskan bahwa jumlah tersebut sudah diklasifikasikan sesuai dengan jenjang usia, dari remaja, dewasa, dan orang tua untuk menjadi sasaran untuk diwawancarai.

Total ada sebanyak 11 topik yang terdiri atas bahasa sebanyak empat topik, sastra tiga topik, dan aksara empat topik.

Dari semua topik tersebut terdapat satu topik untuk mengetahui masyarakat terkait pengetahuannya terhadap lontar.

Ternyata lontar masih menjadi benda “tenget” atau sakral bagi masyarakat.

Hal ini berdasarkan hasil survei yang cukup mengagetkan.

Dari  51 ribu lebih masyarakat yang diwawancarai, terdapat 23.182 orang atau 45,32 persen tidak mengenal lontar.

Sedangkan 18.857 orang atau 36,86 persen mengatakan tahu sedikit-sedikit mengenai lontar tersebut, dan yang mengakui mengetahui atau mengenal hanya sebanyak 9.114 orang atau 17,82 persen.

Koordinator Penyuluh Bahasa Bali I Nyoman Suka Ardiyasa menjelaskan, ketika masyarakat ditanya soal lontar mereka memang mengatakan tidak tahu. Namun mereka mengakui bahwa lontar itu sangat penting.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved