Ketua PHDI Bali: Benda Cagar Budaya Dihancurkan Karena Bantuan Bermiliar-miliar

pelestariannya juga menjadi tanggungjawab desa adat, keliang banjar, pemaksan, maupun pengempon pura.

Ketua PHDI Bali: Benda Cagar Budaya Dihancurkan Karena Bantuan Bermiliar-miliar
Tribun Bali/Putu Supartika
Ketua PHDI Bali Prof I Gusti Ngurah Sudiana saat dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi di Inna Bali Heritage Hotel, Jalan Veteran Nomor 3 Denpasar, Sabtu (15/12/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua PHDI Bali, Prof I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan bahwa benda cagar budaya masih bersifat living monument dan masih digunakan dalam kehidupan bermasyarakat semisal dalam kehidupan beragama.

Sehingga pelestariannya juga menjadi tanggungjawab desa adat, keliang banjar, pemaksan, maupun pengempon pura.

Akan tetapi keberadaannya masih tidak tertata secara baik dan masih bersifat tradisional.

"Penataannya masih tradisional. Kalau lontar dibungkus kain, kalau benda pejenengan (arca) ditaruh di gedong simpen dan tidak ditata secara modern," kata Sudiana dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi di Inna Bali Heritage Hotel, Jalan Veteran Nomor 3 Denpasar, Sabtu (15/12/2018).

Diskusi ini dilaksanakan oleh Badan Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Bali bekerjasama dengan Ikatan Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Daerah Bali (IAAI Komda Bali).

Bahkan untuk prasasti hanya diberi sesajen dengan babi guling yang besar namun prasastinya tidak dibaca.

Dan ada pula lontar yang tidak baca sampai dua keturunan dan dibuatkan mitos bagi yang baca selalu kesurupan.

Ia membandingkan kondisi ini dengan apa yang dilakukan di Belanda.

Menurut Sudiana, di Belanda arca ataupun lontar yang merupakan benda cagar budaya ditaruh dalam kotak dan suhunya diatur dengan baik.

Hal itu menyebabkan tidak rusak dan bisa awet.

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved