Bhagawadgita Seharusnya Dibaca Sampai Lecek, Pastika Jelaskan 3 Jenis Punia Menurut Bhagawadgita 

Pastika berharap Bhagawadgita tidak hanya disimpan namun juga dibaca sampai lecek

Penulis: Wema Satya Dinata | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Mangku Pastika saat menghadiri perayaan Gita Jayanti Nasional 2018, di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Minggu (16/12/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -  Presiden World Hindu Parisad, Made Mangku Pastika mengatakan fenomena saat ini jarang masyarakat yang membaca Bhagawadgita karena kebanyakan hanya disimpan di plangkiran (tempat pemujaan umat Hindu).

Pastika berharap Bhagawadgita tidak hanya disimpan namun juga dibaca sampai lecek.

“Memang itu kitab suci, tapi harus dibaca sampai lecek. Saya menggunakan Bhagawadgita sebagai bantal saya kalau saya tidur. Cari yang agak tebal, kita gunakan sebagai bantal. Tengah malam kita bangun belum bisa tidur lagi, bukalah sembarangan saja, baca, renungkan, cukup satu sloka. Setelah direnungkan dan dimengerti isinya, tidur lagi. Besoknya langsung kerjakan,” kata Pastika saat menghadiri perayaan Gita Jayanti Nasional 2018, di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Minggu (16/12/2018).

Untuk mencapai ketenangan, lanjut Pastika, cukup membaca satu sloka sebelum tidur dan selanjutnya bisa untuk direnungkan.

“Dari 18 Bab dan 700 sloka dalam Bhagawadgita cukup (dibaca) satu sloka, itulah petunjuk Tuhan kepada kita. Sebelum tidur berdoalah, semoga ayat-ayat suci dalam Bhagawadgita masuk ke dalam jiwa raga kita,” himbaunya.

Menurutnya, dalam agama Hindu tidak ada dogma (bersifat memaksa, harus begitu, harus begini) dan tidak ada menakut-nakuti, namun semuanya logis, scientific, fleksibel dan up to date.

Dalam kesempatan tersebut, dihadapan ribuan orang yang hadir, Gubernur Bali periode 2008-2018 ini menjelaskan tentang tiga sloka dalam Bhagawadgita yang terkait dengan punia (pemberian/sumbangan red) dalam Hindu.

Ketiga jenis punia dalam Bhagawadgita terdiri dari satwika, rajasika dan tamasika.

Dikatakannya dalam Bab 17 Sloka 20 Bhagawadgita menyebutkan berdarma secara tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan pada saat yang tepat, kepada orang yang layak menerimanya, itulah yang disebut dengan Satwika.

Orang tersebut akan mendapat pahala.

Selanjutnya, pada Bab 17 Sloka 21 Bhagawadgita, menyebutkan pemberian hadiah atau berdarma secara tidak tulus dengan tujuan untuk mendapatkan suatu imbalan atau mendapat pengakuan supaya menjadi terkenal disebut rajasika, dan nilainya adalah nol.

Tidak ada nilainya sama sekali, karena sudah diberi imbalan berupa penghargaan atau keterkenalan.

Berikutnya dalam Bab 17 Sloka 22 Bhagawadgita menyebutkan berdarma atau memberi hadiah tanpa ketulusan niat dengan rasa kesal karena terpaksa, dan bisa menimbulkan kemalasan, ketergantungan dari orang yang kita berikan punia, maka itu disebut tamasika, nilainya adalah minus.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) mengharapkan Gita Yoga dapat mengubah karakter sumber daya manusia (SDM) dalam menghadapi era globalisasi.

Gita Yoga juga memiliki arti penting untuk merenungkan hakikat dan makna dalam kehidupan berbangsa dan negara.

Ketua Umum Perkumpulan International Society for Krishna Consciousness ( ISKCON) Vrajendra-Nandana Das melaporkan bahwa Gita Yoga merupakan rangkaian dari Kegiatan Gita Jayanti Nasional 2018.

Gita Jayanti adalah  hari peringatan turunnya Bhagawad Gita.

Melalui kegiatan ini, pihaknya ingin mengajak Umat Hindu untuk lebih membudayakan membaca Bhagawad Gita sebagai pedoman hidup. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved