Dharma Wacana

Renungan Hari Suci Galungan

Dalam membicarakan Galungan, kita harus kembali pada teks, karena itulah sesungguhnya yang harus dikontestasikan

Renungan Hari Suci Galungan
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

TRIBUN-BALI.COM - Dalam membicarakan Galungan, kita harus kembali pada teks, karena itulah sesungguhnya yang harus dikontestasikan.

Dalam lontar Sundarigama, jelas dikatakan, “Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galugan petitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep.

Apa yang bisa turunkan dalam konsep Galungan itu, yakni “Petitis ikang janyana sandhi”.

Kita harus mengutamakan pemusatan pikiran, supaya kita terbebas dari penyakit pikiran.

Di zaman sekarang, yang generasi muda menyebutnya ‘zaman now’, problem (permasalahan) yang paling besar pada diri manusia bukanlah problem material, tetapi problem pikiran.

Permasalahan pikiran itu sendiri, sekarang melanda di semua strata sosial, karena saat ini lahir sebuah budaya baru, yakni budaya identitas. Karena budaya identitas ini, orang-orang ingin tampil.

Akibatnya, orang melenceng dari identitas pribadinya. Maka dari itu, “Maryakena sarwa byapaning idep (lenyapkan segala kegelapan bhatin).” Di mana sumber ‘byapaning idep’ atau kegelapan pikiran itu, tak lain berada pikiran dan ego. Maka dengan demikian, kita mesti harus mulai mentransendenkan pikiran.

Sehari sebelum Hari Suci Galungan, kita mengenal apa yang disebut ‘Penampahan’. Kata Penampahan berarti menyembelih. Penyembelihan dalam hal ini, bukanlah penyembelihan babi.

Tetapi mesti diartikan sebagai penyembelihan sifat-sifat keserakahan dalam diri. Kalau sifat keserakahan masih bercokol dalam kiri, maka pikiran kita akan terus digerogoti penyakita.

Sekarang, melalui Galungan inilah, selain kita melakukan apa yang disebut dengan ‘namya’ (ritual), kita juga harus melakukan ‘sunya’ atau memusatkan pikiran pada Hyang Tunggal. Sebab Hari Raya Galungan merupakan hari dimana Bhatari Uma yang merupakan Saktinya Dewa Siwa, memurti menjadi Durga Dewi atau ‘kroda’ (kemarahan).

Maka dengan demikian, di Hari Galungan ini marilah kita kembali mulat sarira. Lebih-lebih ketika membicarakan Durga Dewi dengan penyembelihan babi.

Di sana, akan melahirkan somnya menjadi ‘Uncal Balung’, kemudian kita tingkatkan instrospeksi kita ke wilayah kebijaksanaan. Setelah bijaksana maka terlahirlah kasih sayang. Sebab bisa saya katakan, di zaman saat ini kita semua kekurangan kasih sayang.

Kita sering mem-bully orang, memalsukan status, bahkan sulinggih pun tidak terlepas dari serangan bully. Maka demikian, marilah pada Galungan ini kita melakukan konsentrasi untuk penyucian diri. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved