Galungan di Tenganan Pegringsingan; Tak Ada Penjor dan Bau Dupa, Pertahakan Tradisi Leluhur

Perayaan Galungan di Desa Tenganan Pegringsingan memang beda dengan daerah lain di Karangasem, bahkan di Bali

Galungan di Tenganan Pegringsingan; Tak Ada Penjor dan Bau Dupa, Pertahakan Tradisi Leluhur
Istimewa
Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, makan bersama di Bale Desa Adat Tenganan, Rabu (26/12/2018). Prosesi makan bersama digelar setelah haturkan bantenan uduan. 

"Tumpeng itu simbol keikhlasan karena diberi sesuatu yang melimpah kepada kami," jelasnya.

Bantenan uduan dihanturkan di Pura Puseh dan ayam putih tulus yang dipanggang. Dilanjutkan ke Pura Ulun Suarga dan Pura Bale Agung Tenganan, ditambah ayam brunbun serta biing.

"Dari jam 07.00 Wita. Setelah dihaturkan, bantenan uduan dibawa ke Bale Desa untuk dimakan bersama krama," jelas Sudarsana. Sehari sebelumnya, krama juga memotong babi dengan berat 134 kilogram.

Daging babi dibagi jadi tiga bagian untuk persiapan saat Galungan.

"Satu bagian diberikan untuk enam juru arah, dan Jro penyarikan. Sedangkan dua bagian lagi diberikan untuk krama Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Lalu kami tambah lagi motong satu ekor babi," ucap Wayan Sudarsana.

Setelah persembahyangan, warga kembali beraktivitas seperti biasa.

Ada yang menulis lontar, berjualan, dan berkebun di Tenganan Pegringsingan. Prosesi ini berjalan setiap Hari Raya Galungan, karena termasuk warisan leluhur yang harus dilestarikan. (saiful rohim)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved