Serba Serbi

Wuku Kuningan Tak Baik untuk Menikah dan Lakukan Beberapa Upacara Ini. Apa Sebabnya?

Wuku Kuningan Tak Baik untuk Menikah dan Lakukan Beberapa Upacara Ini. Apa Sebabnya?

Wuku Kuningan Tak Baik untuk Menikah dan Lakukan Beberapa Upacara Ini. Apa Sebabnya?
Net
Ilustrasi 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam sistem kalender Bali dikenal sistem wuku yang setiap minggunya selalu berganti.

Secara keseluruhan terdapat 30 jenis wuku yang dapat bertemu dengan sistem perhitungan lain sehingga menyebabkan berbagai hari baik atau buruk.

Selama seminggu ini mulai Minggu hingga Sabtu (30/12/2018-05/01/2019) seperti yang dituliskan dalam kalender karya Alm. Drs. I Nyoman Singgir Wikarman terdapat Wuku Kuningan.

Perlu diketahui bahwa Alm. Drs. I Nyoman Singgir Wikarman semasih hidupnya sebagai anggota tim pengkaji wariga dan penyusunan kalender Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dan kini kalendernya dilanjutkan oleh putra-putrinya, I Gede Sutarya beserta adik-adiknya.

Baca: 5 Kala Ini Hadir di Minggu Wuku Kuningan, Simak Ala Ayuning Dewasanya

Baca: Kehadiran Dua Kala Ini Tandai Hari Baik untuk Melakukan Hal Bersifat Kedyatmikan

Baca: Selasa Wuku Julungwangi: Hari Baik untuk Melantik Pejabat, Namun Buruk untuk Bekerja di Tanah

Dikutip dari buku "Ala Ayuning Dewasa" Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga dijelaskan bahwa Wuku Kuningan menghadirkan Carik Walang Hati dan Wuku Tanpa Guru.

Di sana dijelaskan bahwa Carik Walang Hati artinya ketetapan waktu yang tidak baik dipakai untuk melaksanakan upacara terhadap leluhur (Pitra Yadnya) dan pernikahan (wiwaha).

Carik walang hati ini jatuh pada Wuku Sinta, Gumbreg, Wariga, Sungsang, Kuningan, Perangbakat, Wayang, Kelau dan Watugunung.

Sementara itu Wuku Tanpa Guru berarti padewasan yang tidak mempunyai hitungan guru menurut ketetapan Asta Wara yang ditandai sebagai hari yang tidak baik untuk melakukan upacara Panca Yadnya (Dewa, Rsi, Pitra, Manusa dan Butha).

Kehadiran Wuku Tanpa Guru ini yakni pada Wuku Gumbreg, Kuningan, Medangkungan dan Kelawu.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved