Soal Aturan Kantong Plastik di Denpasar, Sanksi bagi Pelanggar Kurang Jelas

Aturan tentang pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai secara umum sudah dipatuhi oleh toko-toko ritel di Denpasar

Soal Aturan Kantong Plastik di Denpasar, Sanksi bagi Pelanggar Kurang Jelas
Tribun Bali/Noviana Windri
Ayu Nadi Swalayan di Jln. Tukad Batanghari, Dauh Puri Klod, Denpasar Barat, Kota Denpasar, Bali menyediakan kardus sebagai alternatif pengganti kantong plastik, Kamis (3/1/2019) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Aturan tentang pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai secara umum sudah dipatuhi oleh toko-toko ritel di Denpasar, termasuk ritel yang berjaringan.

Namun demikian, penegakan aturan ini diharapkan berjalan tegas dan efektif. Sebab, mengajak masyarakat dan pelaku usaha untuk mengubah kebiasaannya dalam menggunakan tas plastik sekali pakai (PSP) butuh waktu yang tidak singkat.

Bisa memakan waktu tahunan, yang itu akan menguji konsistensi pemerintah sebagai pihak regulator atau pembuat aturan.

Menurut Plastik Detox Bali, untuk mewujudkan kesadaran penuh dalam pembatasan penggunaan PSP sehingga menjadi kebiasaan hidup, butuh masa adaptasi atau penyesuaian bagi masyarakat maupun pelaku usaha.

Belum lagi, pemerintah sebagai regulator juga perlu melengkapi piranti-pirantinya untuk penegakan aturan tersebut.

Proses pembiasaan itu tidak bisa berlangsung dalam sekejap, bahkan bisa memakan waktu tahunan.

“Kami di Plastik Detox Bali, kampanye terhadap ide-ide untuk mendukung proses pengurangan PSP ini saja telah dimulai sejak 2012. Kami memulainya dari pelaku usaha kecil di seputar Sanur, Denpasar. Plastik Detox mengajak mereka untuk mengurangi pemakaian tiga jenis plastik sekali pakai yaitu kantong kresek, styrofoam dan sedotan plastik,” kata Luh De Dwi Jayanthi, Koordinator Plastik Detox Bali, dalam siaran persnya yang diterima Tribun Bali.

“Tiga jenis plastik tersebut dianggap paling memungkinkan untuk dikurangi. Tetapi, kenyataan tidak semudah itu untuk mewujudkannya. Berbagai permasalahan ditemui, kendati juga muncul pula ide solusinya,” imbuh Dwi Jayanthi.

Plastik Detox Bali bahkan sampai memberikan insentif berupa pelatihan untuk staf para pelaku usaha, pelayanan desain, promosi dan konsultasi secara gratis kepada setiap pelaku usaha yang bergabung untuk program pengurangan penggunaan PSP.

Pada akhir 2018, sudah 20 pelaku usaha kafe, restoran dan hotel di 27 lokasi yang bergabung bersama kampanye Plastik Detox Bali.

Halaman
1234
Penulis: Noviana Windri
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved