Ajak Umat Nostalgia Nangkil ke Pura Sakenan dengan Jukung, Perayaan Unik Kuningan di Pulau Serangan

Umat akan diajak bernostalgia dengan masa-masa perayaan Kuningan pada 1996 dan sebelumnya, yakni nangkil ke Pura Sakenan dengan menggunakan jukung

Ajak Umat Nostalgia Nangkil ke Pura Sakenan dengan Jukung, Perayaan Unik Kuningan di Pulau Serangan
Tribun Bali/Rizal Fanany
PERSIAPAN - Nelayan mengecek kesiapan jukung dalam rangka hari raya Kuningan di Banjar Suwung Batan Kendal, Desa Sesetan, Denpasar, Jumat (4/1/2019). Jukung-jukung ini nanti akan digunakan sebagai sarana penyeberangan saat umat Hindu melaksanakan persembahyanhan ke Pura Sakenan,Serangan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ada yang berbeda bagi umat Hindu yang akan merayakan Hari Raya Kuningan dalam rangka piodalan ke Pura Dalem Sakenan, Pulau Serangan, Denpasar Selatan, Sabtu (5/1/2019) hari ini.

Mereka akan diajak kembali ke masa lalu.

Umat akan diajak bernostalgia dengan masa-masa perayaan Kuningan pada 1996 dan sebelumnya, yakni nangkil ke Pura Sakenan yang berada di Pulau Serangan dengan menggunakan perahu tradisional atau jukung.

Ajakan nostalgia ini tentu disambut dengan antusias oleh para anggota kelompok nelayan setempat, terlebih bagi Kelompok Nelayan Taman Segara Kodang.

Sekretaris Kelompok Nelayan Taman Segara Kodang, Wayan Budiarsa mengatakan, pihaknya menyambut positif program ini dengan menyiapkan sebanyak kurang lebih 10 armada. 

"Jika nanti memang animo masyarakat membeludak, kami juga sudah siap memfasilitasi armada tambahan. Besok (hari ini, red) kami sudah siap di pos nelayan dari pukul 8 pagi dengan tarif Rp 10 ribu per kepala untuk satu kali pemberangkatan," ungkap Wayan Budiarsa kepada Tribun Bali saat ditemui kemarin.  

Ia melanjutkan, pihaknya tidak memiliki persiapan khusus untuk menyiapkan pelayanan penyeberangan nanti, karena memang sudah berpengalaman dalam hal ini.

Jauh sebelumnya, kata dia, aktivitas penyeberangan menuju Pulau Serangan memang sudah jadi hal yang lumrah jauh sebelum adanya reklamasi pada tahun 1996 silam.

"Dulu sekitar 10 tahun silam lebih, bahkan sejak tradisi nenek moyang kita dulu, sebelum adanya reklamasi dibikin jalan darat menuju pulau itu, kan warga kalau nangkil ya pakai jalur laut. Itu sejak dari dulu kami yang handle," tutur Wayan Budiarsa.

Meski begitu, Wayan mengakui bahwa ini adalah kali pertama pihaknya setelah sejak lama tidak mengantar warga nangkil ke Pura Sakenan.

Halaman
12
Penulis: eurazmy
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved