Korban Kabur Lewat Jendela, Pelarian Korban TPPO Berlangsung Dramatis

Seorang anak perempuan asal Bekasi berhasil melarikan diri melalui jendela sebuah rumah prostitusi di Sanur yang berkedok kafe

Korban Kabur Lewat Jendela, Pelarian Korban TPPO Berlangsung Dramatis
Humas Polda Bali
Salah satu tersangka diamankan Polda Bali dan dimintai keterangan oleh polisi. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Terkuaknya kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di rumah prostitusi ilegal di kawasan Sanur, Denpasar, pada Jumat (5/1/2019) lalu, ternyata menyimpan cerita yang dramatis.

Menurut Ketua P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) Denpasar, Ni Luh Putu Anggreni, ia dan teman-temannya kini sudah mengayomi para korban dan dititipkan di sebuah rumah aman (safe house) di Tabanan.

Anggreni menjelaskan, seorang anak perempuan asal Bekasi, sebut saja nama samarannya Anggrek (16), melarikan diri melalui jendela sebuah rumah prostitusi di Sanur yang berkedok kafe pada Tahun Baru lalu.

Anggrek dan teman-temannya kini sudah mendapatkan tampungan setelah sebelumnya berdialog dengan Putu Anggreni melalui telepon selulernya.

"Awalnya, kami dihubungi oleh kakak dari si anak ini, yang berasal dari Bekasi. Si kakak bilang bahwa dia kehilangan kontak dengan adiknya. Padahal, adiknya ini baru datang di Bali tanggal 28 Desember 2018 lalu. Beruntung, ke kakaknya itu, si adik sempat share lokasi dimana dia persisnya berada di Bali. Kakaknya kemudian langsung ke lokasi yang dimaksud. Lalu si kakak itu juga mengirimkan atau share lokasi tersebut ke kami," jelas Anggreni dengan cukup detail.

P2TP2A Denpasar, kata Anggreni, menaruh kecurigaan atas lokasi yang di­-share tersebut, karena lokasi yang dikirimkan itu merupakan tempat prostitusi.

"Kami curiga karena di sekitar lokasi yang di­-share itu adalah wilayah prostitusi. Kami kemudian tanyakan lagi posisi adiknya untuk memperjelas. Dan akhirnya kami mendapat informasinya," kata Anggreni.

"Jadi, kebetulan anak itu yang lebih dulu kontak saya. Mungkin sudah dikasih nomor oleh kakaknya. Dia bilang `ibu tolong saya bu, tolong selamatkan saya`. Saya tidak tahu saat itu dia berada di mana. Dalam pesan komunikasi tersebut, adik itu juga menyertakan gambar-gambar (emoticon) tanda menangis gitu. Dia bilang, saya mau diapa-apain gitu, kurang tahu istilahnya apa. Apalagi dia masih anak bawah umur," ungkap Anggreni ketika dihubungi Tribun Bali kemarin.                       

Anggreni sendiri tidak tahu bagaimana kakak si Anggrek itu mendapati nomor kontaknya.

Anggreni dikenal selama ini sebagai aktivis perlindungan anak dan perempuan.

Halaman
1234
Penulis: Busrah Ardans
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved