Cerita Wayan Purwa, 13 Tahun Bekerja Di Hardy's Retail dan Kini Menganggur

Wayan Purwa sudah 13 tahun bekerja sebagai TL koordinator atau atasan dari staf pengiriman sejak tahun 2006 di outlet Hardys Panjer.

Cerita Wayan Purwa, 13 Tahun Bekerja Di Hardy's Retail dan Kini Menganggur
Tribun Bali/Noviana Windri Rahmawati
Wayan Purwa (41) eks karyawan Hardys Retail saat ditemui di depan lobi kantor Disnaker, Denpasar, Bali, Selasa (8/1/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Wayan Purwa (41) eks karyawan PT Hardy's Retailindo yang kini sudah beralih manajemen ke PT Arta Sedana Retailindo dan PT. Super Grosir Indonesia.

Wayan Purwa sudah 13 tahun bekerja sebagai TL koordinator atau atasan dari staf pengiriman sejak tahun 2006 di outlet Hardys Panjer.

"Sekarang nganggur. Karena umur sudah 40 ya susah mau cari kerja. Persaingan kerja kan susah soalnya yang muda kan banyak. Ya kadang cuma nge-Grab," ucapnya yang saat itu ditemui di depan lobi kantor Disnaker, Denpasar, Bali, Selasa (8/1/2019).

Wayan Purwa di-PHK putaran kedua yaitu pada tanggal 25 Februari 2018.

Dia menceritakan saat di-PHK istrinya tengah hamil tua dan ia juga harus menghidupi dua orang anaknya.

"Nganggur ya berat. Tapi untung istri juga ikut kerja. Bisa nambahin. Kalau ngandalin saya kerja nge-Grab ya berapa dapat. Narik Grab juga enggak tentu, sekarang masih ngurus bayi yang masih kecil sama ibu dari kampung ikut ke sini," ceritanya.

Hasil Grab-nya sehari-hari berkisar Rp 150 ribu dan cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga.

"Saya ikut ke sini ya kesadaran sendiri karyawan di-PHK kan juga ada haknya. Kalau dibilang tong kosong ya semuanya tong kosong antara PT Arta Sedana dan bos-bos itulah," ujarnya.

Baca: Mediasi Eks Karyawan Hardys Tak Temukan Titik Temu

Baca: Matahari Tutup Gerai Lagi, Pakar Manajemen Beberkan Penyebab Ritel Modern Berguguran

Baca: Plt. Ketua APRINDO Bali Berharap Hardys Bisa Dongkrak Pertumbuhan Industri Ritel

"Berapa besarnya kan itu kebijakan dari mereka. Walaupun tidak sesuai dengan peraturan ya tidak masalahlah. Ya namanya juga pailit kan. Kalau pailitnya masih punya usaha itu bukan pailit namanya. Sama saja membohongi karyawan,"

"Selama 13 tahun bekerja ya sosialnya bagus. Sampai anak saya 3 itu ditanggung tunjangannya," tambahnya.

Dia menyebutkan manajemen sebelum PT Hardys pailit bagus, gaji lancar dan selama dia bekerja selain biaya hidup juga bisa beli motor dan handphone.

"Sejak pailit manajemen PT Hardys mulai goyah. Kita sebagai karyawan ya seiklasnya saja lah. Kalau memang pailit ya seikhlasnya saja, masalah intern dengan bos-bosnya itukan urusan mereka. Kalau urusan sama karyawan ya karyawan aja enggak usah ribet ribet," katanya.

"Yang paling mengecewakan sih waktu istri saya melahirkan bulan Maret. Itu BPJS kesehatan di-stop. Saya harus putar otak saat itu. Jamsostek ketenagakerjaan juga ditunda," tambahnya.

"Ya ada solusi untuk dibayarkan. Walaupun tidak maksimal tidak apa-apa," tutupnya. (*)

Penulis: Noviana Windri
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved