Serba Serbi

Hari Ini Tidak Baik untuk Membangun Rumah, Namun Baik untuk Membangun Tempat Suci

Pada hari ini, Selasa (8/1/2019) dalam susunan kalender Bali terdapat Lebur Awu dan Merta Dewa.

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ady Sucipto
Tirbun Bali/Lugas Wicaksono
(Ilustrasi) Sejumlah aktivis di Buleleng membantu bedah rumah I Nengah Suka, Minggu (6/7/2015) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pada hari ini, Selasa (8/1/2019) dalam susunan kalender Bali terdapat Lebur Awu dan Merta Dewa.

Hal ini tertulis dalam kalender yang disusun oleh Alm. I Ketut Bangbang Gede Rawi dan putra-putranya.

Dalam buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga dijelaskan mengenai kehadiran dari Tutut Masih tersebut.

Lebur Awu kemunculannya sebagai ketetapan hari jelek untuk membuat rumah dan melakukan upacara atau prosesi pemakuhan, namun baik untuk membuat terusan baru sebuah sungai.

Ketentuan hadirnya Lebur Awu yakni berpedoman pada Sapta Wara dan Asta Wara yaitu pada Redite Indra, Soma Uma, Anggara Rudra, Budha Brahma, Wrespati Guru, Sukra Sri dan Saniscara Yama.

Sedangkan Merta Dewa sebagai dewasa yang baik dipakai untuk membangun berbagai macam bangunan suci.

Adapun ketetapannya yakni setiap Redite pananggal 6, Soma pananggal 7, Anggara pananggal 3, Budha pananggal 2, Wrespati pananggal 5, Sukra pananggal 1 dan Saniscara pananggal 4.

Dalam susunan kalender Bali memang dikenal istilah ala ayuning dewasa yang berarti baik-buruknya suatu hari dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tertentu.

Dewasa atau padewasan yang biasa disebut ilmu wariga ini, seperti yang dijelaskan dalam buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga tersebut adalah cara untuk mengidentifikasi hari yang baik dan hari yang jelek (buruk).

"Jelasnya (padewasan itu adalah) pengetahuan untuk menentukan hari baik dan hari jelek," tulisnya lagi.

Cakupan mengenai ala ayuning dewasa ini sangatlah luas dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia melalui perhitungan parameter tertentu.

Perhitungan yang dimaksud berupa pawintangan yang ditetapkan berdasarkan letak bintang dalam mengelilingi matahari; sasih yang berhubungan dengan penentuan musim berdasarkan peredaran gerak semu matahari dan juga bulan yang mengelilingi bumi; dan wuku tentang ilmu ruas-ruas kumpulan binatang tertentu yang berporos di bumi.

Selain itu juga berpedoman pada wawaran yakni tentang nama-nama hari dan dedaunan yang dipakai sebagai ilmu pembagian waktu dalam satu hari.

Menurut Ida Pandita Empu Yogiswara di Griya Manik Uma Jati, dalam ala ayuning dewasa ini memang tidak terlepas dari adanya wariga-wariga seperti wuku, ingkel dan di dalamnya terdapat larangan-larangan.

Ida Pandita pun menjelaskan bahwa ala ayuning dewasa ini juga tidak terlepas dari adanya ala ayuning dina (hari), ala ayuning sasih (bulan) dan ada ala ayuning nyet (pikiran).

Jadinya, meski ada larangan-larangan namun jika pelaksana kegiatan memiliki pemikiran yang positif maka hal tersebut boleh dilakukan.

"Sekarang ada ala ayuning nyet. Nyet itu pikiran. Kalau kita memang pikiran itu hening dan tidak akan kena apapun yang namanya musibah itu, itu boleh karena kita yakin," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved