Puluhan Orang Berteriak Histeris dan Menusuk Dirinya dengan Keris Saat Pangerebongan

Upacara ini dilaksanakan setiap 210 hari atau tepatnya seminggu setelah Umanis Kuningan atau Redite Pon Medangsia

Puluhan Orang Berteriak Histeris dan Menusuk Dirinya dengan Keris Saat Pangerebongan
Tribun Bali/I Putu Supartika
Prosesi Pengerebongan di areal Pura Petilan Pengerebongan Kesiman, Minggu (13/1/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Waktu menunjukkan pukul 16.00 Wita.

Ribuan orang telah berkumpul di areal Pura Petilan Pengerebongan Kesiman tempat dilaksanakan upacara pangerebongan, Minggu (13/1/2019).

Upacara ini dilaksanakan setiap 210 hari atau tepatnya seminggu setelah Umanis Kuningan atau Redite Pon Medangsia.

Menurut Sekretaris Bendesa Desa Adat Kesiman, Nyoman Gede Widiarsa mengatakan rangakaiannya dimulai sejak Sugihan Jawa yang dilanjutkan pada saat Umanis Galungan.

Pada saat Umanis Galungan dilaksanakan piodalan yang juga disebut pengebekan.

"Selanjutnya saat Paing Kuningan dilaksanakan yang namanya pemapadan, dan puncaknya adalah hari ini yaitu saat Pengerebongan ini," kata Widiarsa.

Upacara ini telah dilaksanakan secara turun temurun sejak dahulu yang diwariskan oleh para leluhur mereka.

"Mengingat desa kita yang luas ada 31 banjar, sehingga ini tetap dilaksanakan. Ida Bhatara yang lunga (datang) ke sini juga bukan dari Desa Kesiman saja tapi ada dari luar seperti dari Pemogan, Bekul, Singgi," imbuhnya.

Dilihat dari berdirinya pura ini, diperkirakan telah dilaksanakan sejak tahun 1937.

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved