Serba serbi

Seminggu Kedepan Ternyata Ada Pantangan untuk Berhubungan dengan Hewan, Apa Maksudnya?

Selama satu minggu ke depan, mulai dari Minggu (Redite) hingga Sabtu (Saniscara) (13-19/01/2019) ternyata terdapat sebuah pantangan.

TRIBUN BALI/I WAYAN SUI SUADNYANA
Kalender yang disusun oleh Alm. I Ketut Bangbang Gede Rawi dan putra-putranya dan buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selama satu minggu ke depan, mulai dari Minggu (Redite) hingga Sabtu (Saniscara) (13-19/01/2019) ternyata terdapat sebuah pantangan.

Pantangan tersebut berupa hal-hal yang berhubungan dengan hewan.

Hal tersebut dijelaskan dalam buku "Ala Ayuning Dewasa" Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga.

Di sana dijelaskan bahwa terdapat sistem ala ayuning dewasa antara pertemuan Ingkel dan Wuku.

"Ingkel adalah ketentuan dalam sistem pawukon yang merupakan pantangan untuk melakukan sesuatu kerja yang terkait dengan ketetapannya," tulisnya.

Penyebab lahirnya pantangan ini karena ada pertemuan antara Ingkel Sato dengan Wuku Medangsia.

Dalam susunan kalender Bali memang dikenal istilah ala ayuning dewasa yang berarti baik-buruknya suatu hari dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tertentu.

Dewasa atau padewasan yang biasa disebut ilmu wariga ini, seperti yang dijelaskan dalam buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga tersebut adalah cara untuk mengidentifikasi hari yang baik dan hari yang jelek (buruk).

"Jelasnya (padewasan itu adalah) pengetahuan untuk menentukan hari baik dan hari jelek," tulisnya lagi.

Cakupan mengenai ala ayuning dewasa ini sangatlah luas dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia melalui perhitungan parameter tertentu.

Baca: Minggu Wuku Langkir Tidak Baik untuk Memulai Pekerjaan, Pindah Tempat dan Bepergian

Baca: Ingin Keriting dan Semir Rambut atau Pergi ke Salon? Perhatikan Hari Baiknya Berikut Ini

Baca: Selasa Wuku Julungwangi: Hari Baik untuk Melantik Pejabat, Namun Buruk untuk Bekerja di Tanah

Perhitungan yang dimaksud berupa pawintangan yang ditetapkan berdasarkan letak bintang dalam mengelilingi matahari; sasih yang berhubungan dengan penentuan musim berdasarkan peredaran gerak semu matahari dan juga bulan yang mengelilingi bumi; dan wuku tentang ilmu ruas-ruas kumpulan binatang tertentu yang berporos di bumi.

Selain itu juga berpedoman pada wawaran yakni tentang nama-nama hari dan dedaunan yang dipakai sebagai ilmu pembagian waktu dalam satu hari.

Menurut Ida Pandita Empu Yogiswara di Griya Manik Uma Jati, dalam ala ayuning dewasa ini memang tidak terlepas dari adanya wariga-wariga seperti wuku, ingkel dan di dalamnya terdapat larangan-larangan.

Ida Pandita pun menjelaskan bahwa ala ayuning dewasa ini juga tidak terlepas dari adanya ala ayuning dina (hari), ala ayuning sasih (bulan) dan ada ala ayuning nyet (pikiran).

Jadinya, meski ada larangan-larangan namun jika pelaksana kegiatan memiliki pemikiran yang positif maka hal tersebut boleh dilakukan.

"Sekarang ada ala ayuning nyet. Nyet itu pikiran. Kalau kita memang pikiran itu hening dan tidak akan kena apapun yang namanya musibah itu, itu boleh karena kita yakin," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved