24 Pelatih Ikuti Kursus Pelatih Lisensi C AFC di GOR Ngurah Rai, Ada Peserta dari NTT hingga Papua

24 Pelatih Sepakbola ikuti kursus pelatih lisensi C AFC di GOR Ngurah Rai, Denpasar Bali, Senin (14/1/2019) yang digelar Asprov PSSI Bali.

24 Pelatih Ikuti Kursus Pelatih Lisensi C AFC di GOR Ngurah Rai, Ada Peserta dari NTT hingga Papua
TRIBUN BALI/PUTU DEWI ADI DAMAYANTHI
Kursus Pelatih lisensi C AFC di GOR Ngurah Rai, Denpasar Bali, Senin (14/1/2019). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- 24 Pelatih Sepakbola ikuti kursus pelatih lisensi C AFC di GOR Ngurah Rai, Denpasar Bali, Senin (14/1/2019) yang digelar Asprov PSSI Bali.

Kursus tersebut akan berlangsung hingga 19 Januari 2019. 

Sebanyak 24 pelatih sepakbola yang berasal dari Papua, Kalimantan, NTT, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali ikut dalam pelatihan ini.

“Kursus pelatih lisensi C PSSI AFC ini diikuti 24 peserta, dimana dari 24 peserta itu ada yang dari Papua, Kalimantan , NTT, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali. Bali ada 8 pelatih yang mengikuti Lisensi C AFC ini , sisanya dari beberapa provinsi yang lain , “ ujar Direktur Kompetisi Asprov PSSI Bali, Gede Made Anom Prenatha.

Tidak hanya mengikuti kursus, para pelatih itupun mendapatkan materi kepelatihan di Hotel Kepundung, Denpasar, yang dibawakan langsung oleh Instruktur dari PSSI Pusat yaitu Deny Syamsudin dan Jessie Mustamu.

Satu di antara peserta kursus, A.A Ngurah Surya Negara yang merupakan Pelatih Putra Tresna U-17 mengatakan, kursus ini telah berjalan dengan sangat baik karena instruktur yang memberikan materi merupakan instruktur yang sudah berpengalaman di sepakbola Indonesia.

Ia menambahkan, banyak hal yang ia pelajari di kursus tersebut. Seperti cara melatih yang benar dan mengetahui lebih dalam tentang Filanesia.

“Banyak ya, tentang cara bermain untuk pemain, cara berlatih apa saja yang boleh dan apa saja yang tidak itu ditekankan dalam C  ini, dan lebih memperdalam apa itu filanesia, kalau di D itu hanya baru tahu , kalau di C atau di B mungkin harus sudah masuk apa yang harus dilakukan dalam filanesia itu , “ terangnya.

Saat menjalani kursus ini, ia diharuskan lebih cepat belajar dan menangkap materi yang diberikan instruktur.

“Kalau kendala terlalu besar sih  enggak ada, mungkin kendala - kendalanya kita harus lebih cepat belajar karena kita dibatasi oleh waktu, dan program materi yang diberikan oleh instruktur itu harus semua sudah sampai ke kita dan kita pun sebagai instruktur harus lebih cepat menangkapnya, “ tambahnya.

Halaman
123
Penulis: Putu Dewi Adi Damayanthi
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved