Loader Rusak Saat Terjadi Bencana, Pemkab Kewalahan Tangani Bencana karena Minim Alat Berat

Minimnya ketersediaan alat berat memberi dampak pada penanganan bencana yang bersifat darurat

Loader Rusak Saat Terjadi Bencana, Pemkab Kewalahan Tangani Bencana karena Minim Alat Berat
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Gotong royong - Warga Banjar Cemaralandung, Desa Terunyan, Kintamani gotong royong membersihkan lumpur yang terbawa air bah, Selasa (15/1/2019). Pengendara kesulitan melintasi jalan yang tertimbun material. 

“Memang saat ini kami masih kewalahan karena hanya ada satu unit saja. Sebab terkadang, kejadian bencana terjadi secara bersamaan pada dua desa, tiga desa. Jadi harus menunggu dulu penanganan bencana di satu titik, baru menuju titik selanjutnya. Kalau ada lebih dari satu, tentunya bisa dibagi tugas. Sehingga penanganan bencana lebih cepat. Terlebih jika satu diantaranya mengalami kerusakan. Bisa saling backup,” ujarnya.

Menurut dia, jika melihat dari kondisi geografis Bangli khususnya dalam upaya penanganan kebencanaan, tentunya terdapat jumlah ideal alat berat minimal satu unit loader dan ekskavator bagi tiga kecamatan, yakni Tembuku, Susut, dan Kintamani.

Alasannya, karena tiga kecamatan tersebut yang memiliki potensi besar terjadi bencana dibandingkan wilayah Kecamatan Bangli atau Kota.

Terlebih wilayah Kintamani yang merupakan kecamatan terluas.

Mengenai kebutuhan alat berat itu, Soma mengatakan beberapa kali sudah pernah dianggarkan, namun tidak bisa langsung terpenuhi sebab harga per unit mencapai Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar.

Pejabat asal Sukawati, Gianyar ini menambahkan bila usulan alat berat disetujui tentunya dibarengi juga dengan biaya pemeliharaan berupa penggantian suku cadang hingga penyediaan bahan bakar.

“Kalau untuk seluruh alat berat yang kami miliki, biaya pemeliharaan per tahun mencapai Rp 200 juta, karena biaya suku cadang yang paling mahal. Sedangkan pengadaan, tahun ini belum bisa dianggarkan sebab tidak ada dana,” ucapnya.

Disinggung perihal pembuatan tanggul sebagai langkah mitigasi bencana, Soma menuturkan pihaknya sudah sempat diajak rapat oleh Kepala Dinas untuk membahas rencana tersebut.

Hanya saja, perlu kajian lapangan untuk menentukan lokasi yang cocok pembangunan tanggul.

“Memang perlu dibuatkan tanggul, sehingga ketika terjadi musibah serupa kedepannya tidak berdampak pada pemukiman, ataupun lahan pertanian warga sekitar. Namun dimana lokasi-lokasi yang cocok untuk dibuatkan tanggul, kami perlu melakukan survei lapangan,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved