Peringatan! Pawai Ogoh-Ogoh Dilarang Keras Nyrempet Politik & SARA

Memasuki tahun politik 2019 ini, Pemkot Denpasar tetap akan menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh pada malam Tawur Agung Kesanga sebelum pelaksanaan

Peringatan! Pawai Ogoh-Ogoh Dilarang Keras Nyrempet Politik & SARA
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Teruna Tunjung Mekar merakit kerangka ogoh-ogoh bertema Manuk Danawa di Banjar Abian Nangka Kelod, Desa kesiman petilan,Denpasar, Sabtu (19/1/2019). Dinas kebudayaan Provinsi Bali menghimbau peserta pembuat ogoh-ogoh tidak nyleneh dan berbau politik. Memasuki tahun politik 2019 ini, Pemkot Denpasar tetap akan menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh pada malam Tawur Agung Kesanga sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi mendatang. 

Peringatan! Pawai Ogoh-Ogoh Dilarang Keras Nyrempet Politik & SARA

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Memasuki tahun politik 2019 ini, Pemkot Denpasar tetap akan menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh pada malam Tawur Agung Kesanga sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi mendatang.

Agar prosesi ritual tetap berlangsung khidmat, Pemkot Denpasar melalui Dinas Kebudayaan Kota Denpasar melarang warganya membuat ogoh-ogoh dengan bentuk mengandung unsur politik, pornografi dan SARA.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Bagus Mataram mengajak warga Denpasar untuk kembali memaknai esensi Nyepi dan meninggalkan sejenak urusan politik demi terciptanya kenyamanan dan keamanan malam hari raya Nyepi.

Baca: Wajah Pucat Sutopo yang Terbaring di Ranjang Rumah Sakit: Mohon Doanya!

Baca: Kisah Warga Tandu Wanita Secara Bergantian Pakai Sarung Melintasi Jalan Terjal Pegunungan

Baca: Pekerja Asal China Nekat Berhubungan Intim di Desa Adat, Sanki Ini Menanti Pasangan Mesum Ini

Hendaknya, kata dia, warga membentuk ogoh-ogoh sesuai dengan tradisi dalam rupa bhuta kala, raksasa, pewayangan dan pamurthian.

"Untuk tahun ini sudah saatnya kita memisahkan mana urusan budaya dan mana urusan politik. Diimbau agar bentuk ogoh-ogoh tidak berbau politik," tegasnya.

Selain itu, melalui surat Keputusan Bersama antara beberapa komponen yang meliputi Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP), Sabha Upadesa, Dandim 1611/Badung Polresta juga melarang pengarakan ogoh-ogoh dengan menggunakan sound system dan mercon.

"Agar lebih baik menggunakan alat-alat musik tradisional gamelan. Banyak anggota banjar lain yang sudah latihan berbulan-bulan masa kalah sama sound system. Kan juga mengganggu yang lain," jelasnya. (*)

Penulis: eurazmy
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved