80 Persen Sampah Laut Berasal dari Daratan, Hampir Separuhnya Plastik Lunak

“Salah Satu tujuan pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai untuk agar tidak lagi tergantung pada penggunaan plastik tersebut,"

80 Persen Sampah Laut Berasal dari Daratan, Hampir Separuhnya Plastik Lunak
Tribun Bali/Hisyam Mudin
(Ilustrasi. Foto tidak terkait berita) Pantai Kedonganan tampak dibanjiri sampah plastik, Minggu (24/12/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sampah plastik merupakan benda yang tidak mudah terurai dan dapat mengakibatkan pencemaran tanah, air dan laut.

“Akibat pencemaran sampah plastik di laut, telah ditemukan kandungan plastik berukuran mikro dan nano pada biota serta sumber laut. Selain mengganggu estetika area pantai dan laut, sampah laut juga berdampak negatif pada sektor ekonomi,” ungkap Wakil Gubernur (Wagub) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace).

Ditambahkan Cok Ace, permasalahan polusi sampah plastik ke laut merupakan isu global yang sedang hangat diperbincangkan, mengingat 80 persen sampah yang berada di laut justru berasal dari daratan.

Berdasarkan kajian tahun 2017, sampah yang masuk ke laut 45 persen yakni berupa plastik lunak, 15 persen plastik keras, dan sisanya adalah logam, kaca, karet, kayu dan sebagainya.

“Untuk mengatasi persoalan sampah plastik, maka diperlukan kebijakan dan strategi yang tepat seperti sinergi antara perlindungan lingkungan hidup, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial dengan tujuan akhir melaksanakan pembangunan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Baca: Hanya 2 Hari, Promo KFC Beli 5 Potong Ayam Cuma Rp 50 Ribuan, Hari Ini dan Besok

Baca: Kodim Klungkung Gelar Tes Urine sebagai Upaya Mencegah Peredaran dan Penggunaan Narkoba

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) No. 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai (PSP) pada tanggal 24 Desember 2018.

“Salah satu tujuan pembatasan timbulan sampah plastik sekali pakai ini adalah menjamin generasi masa depan tidak lagi tergantung pada penggunaan plastik sekali pakai, sehingga mencapai kualitas hidup yang lebih baik," terang Cok Ace.

Hal itu disampaikan Cok Ace dalam sambutannya pada 10th East Asia Summit – High Level Seminar On Sustainable Cities, di Hotel Conrad, Nusa Dua, Badung pada Senin (21/1/2019) pagi.

Foto bersama peserta 10th East Asia Summit – High Level Seminar On Sustainable Cities, di Hotel Conrad, Nusa Dua, Badung pada Senin (21/1/2019).
Foto bersama peserta 10th East Asia Summit – High Level Seminar On Sustainable Cities, di Hotel Conrad, Nusa Dua, Badung pada Senin (21/1/2019). (Humas Pemprov Bali)

Dijelaskan lagi bahwa dalam Pergub tersebut, jenis PSP yang diatur adalah kantong plastik, styrofoam dan sedotan plastik.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved