Mencegah Budaya Sexting di Kalangan Remaja: Literasi Antipornografi, Ajak Anak Hargai Diri Sendiri

Tidak hanya di Amerika atau Eropa, perilaku sexting di kalangan remaja Indonesia juga kian mengkhawatirkan

Mencegah Budaya Sexting di Kalangan Remaja: Literasi Antipornografi, Ajak Anak Hargai Diri Sendiri
NET
(Ilustrasi. Foto tidak terkait berita) Sexting menjadi fenomena yang kian mengkhawatirkan di kalangan remaja Indonesia. 

TRIBUN-BALI.COM - Tidak hanya di Amerika atau Eropa, perilaku sexting di kalangan remaja Indonesia juga kian mengkhawatirkan.

Sexting adalah istilah merujuk pada perilaku mengirimkan konten seksual, baik teks, gambar, maupun lewat piranti elektronik.

Berdasarkan data Bareskrim Polri, yakni Laporan NCMEC (National Center Of Missing & Exploited Children), jumlah Internet Protokol (IP) Indonesia yang mengunggah dan mengunduh konten pornografi anak melalui media sosial pada 2015 sebanyak 299.602 IP dan pada 2016 hingga Maret sebanyak 96.824 IP.

Merespon fenomena mengkhawatirkan itu, Lembaga Sahabat Anak, Perempuan, dan Keluarga "Salam Puan" di Gorontalo telah secara intensif melatih sejumlah pelajar untuk menjadi agen literasi antipornografi bagi remaja lainnya di lingkungan masing-masing. 

Baca: Agen Mata-mata Terbaik CIA Meninggal, Rahasia Operasi Intelijennya Terungkap Hingga Difilmkan

Baca: Pisces Untung Besar, Sagitarius Boros Waktu & Uang, Bagaimana dengan Keuanganmu Hari Ini?

Baca: 6 Menu Sarapan Ini Justru Bisa Menghambat Program Dietmu, lho! Apa Saja Itu?

Dilansir dari laman resmi Sahabat Keluarga Kemendikbud, Koordinator Salam Puan, Asriyati Nadjamuddin, mengatakan, pihaknya memberikan penyuluhan kepada siswa sebagai bentuk literasi pornografi serta membagikan buku "Don't Do Sexting" kepada para siswa.

Sebanyak 30 siswa yang dilatih dengan harapan ilmu yang mereka peroleh bisa ditularkan kepada siswa lainnya.

Sedangkan pekan depannya, sekitar 100 remaja akan dilatih hal yang sama. Buku "Don't Do Sexting" disusun oleh Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi bekerja sama dengan Gerakan Jangan Bugil Depan Kamera serta Komite Indonesia Pemberantasan Pornografi dan Pornoaksi.

Asriyati mengimbau remaja segera melaporkan sumber maupun pengirim pesan porno tersebut kepada orang tua dan guru, serta waspada terhadap orang yang baru dikenal melalui media sosial.

Baca: Hanya 3 Hari, Diet Militer Ini Bisa Turunkan Berat Badan Tanpa Perlu Olahraga

Baca: Unik! Warga Desa Puhu Gianyar Ingatkan Buang Sampah Sembarangan Bisa Kesurupan

Baca: Bisa Angkut Puluhan Truk & Kendaraan Tempur, Inilah Keunggulan Kapal Perang KRI Semarang-594

Lantas, Apa yang Bisa Dilakukan para Orang Tua?

Anak-anak dan remaja perlu mendapat dorongan untuk menghargai diri sendiri dengan tidak memamerkan bagian tubuh yang tidak pantas.

Halaman
123
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved