Prabajnana, Jembatan Penghubung Antar Lontar Kuno dan Masyarakat Modern agar Lontar Tak Lagi Tenget

Setelah meluncurkan buku Prabhajnana dan Prabajnana II, Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana (Unud) akhirnya menerbitkan buku Prabhajnana III.

Prabajnana, Jembatan Penghubung Antar Lontar Kuno dan Masyarakat Modern agar Lontar Tak Lagi Tenget
TRIBUN BALI/I WAYAN SUI SUADNYANA
Kepala Pusat Kajian Lontar Unud, Dr. IB Rai Putra, M.Hum memperlihatkan tiga terbitan buku Prabajnana: Kajian Pustaka Lontar Universitas Udayana yang diterbitkan pada tahun 2016 hingga 2018. 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setelah meluncurkan buku Prabhajnana dan Prabajnana II, Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana (Unud) akhirnya menerbitkan buku Prabhajnana III.

Prabhajnana, dari pertama hingga yang ketiga, merupaka buku yang dicetak secara terbatas yang berisi sejumlah kajian lontar dari akademisi.

Kepala Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana (Unud), Dr. IB Rai Putra, M. Hum menjelaskan bahwa kehadiran buku tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan penghubung pengetahuan yang ada dari dalam pustaka-pustaka lontar kuno untuk masyarakat modern.

Melalui pengkajian-pengkajian itu pula berbagai nilai dan pengetahuan yang selama ini diwariskan oleh leluhur orang Bali diharapkan dapat dimanfaatkan dalam konteks modern.

“Prabajnana ini sebagaimana namanya adalah berupaya menangkap masa depan lebih awal, yang tercatatkan di masa lalu. Jadi, untuk menangkap masa depan itu kita juga perlu melihat masa lalu, sehingga tidak tercerabut dari akar tradisinya," katanya saat ditemui di Pusat Kajian Lontar Unud, Fakultas Ilmu Budaya Unud, Selasa (22/1/2019).

"Melalui buku ini, lontar itu diharapkan tidak lagi identik dengan tenget, tetapi sebuah pengetahuan yang mencerahkan,” imbuhnya.

Menurut Rai Putra, lontar-lontar yang ada dan tersebar di Bali merupakan gudangnya pengetahuan.

Lembaran-lembaran lontar yang selama ini seringkali diidentikkan dengan benda yang sakral sejatinya banyak mengulas aspek-aspek kehidupan yang begitu dekat dengan manusia.

Aspek itu di antaranya seperti filsafat, etika, pengobatan, arsitektur, astronomi, dan yang lainnya.

“Tentang usada misalnya, jumlahnya sangat banyak. Bukan hanya usada untuk manusia, bahkan kita mewarisi usada carik yang terkait dengan pengelolaan sawah. Nilai-nilai yang diwariskan dari masa lalu, dalam hal bukan kembali ke masa lalu, tetapi membangun masa depan dari masa lalu,” ungkapnya.

Baca: Ketika Lontar Masih Jadi Benda ‘Tenget’ di Bali

Baca: Selama Tiga Tahun, Penyuluh Bahasa Bali Berhasil Identifikasi 25.106 Cakep Naskah Lontar

Dijelaskan lagi bahwa tulisan-tulisan yang ada dalam tiga buku Prabajnana pada esensinya merupakan kajian-kajian terhadap lontar koleksi Pusat Kajian Lontar Unud.

Penulisnya sebagian besar merupakan orang-orang yang pernah bersentuhan terhadap koleksi lontar Pusat Kajian Lontar Unud.

Pada Prabajnana I membahas keberadaan lontar yang bisa dirujuk untuk mengembangkan berbagai macam batang keilmuan yang diterbitkan pada tahun 2016.

Setahun kemudian, Prabhajnana II hadir dengan bahasan yang difokuskan pada aspek-aspek ekologi yang dapat ditemui dalam lontar-lontar kuno di Bali.

Sementara itu, pada tahun 2018 akhir hadir Prabajnana III materi-materi yang diketengahkan kembali kepada kajian-kajian lontar yang umum.

“Buku Prabajnana, baik terbitan I, II, atau III ini tidak diperjuabelikan, dan hanya didapatkan di Pusat Kajian Lontar. Penerbitannya didanai oleh Unud, dan diberikan gratis pada masyarakat yang berminat, namun memang hanya terbatas,” ucapnya.

Terkait dengan koleksi lontarnya, hingga saat ini Pusat Kajian Lontar Unud mengoleksi 939 judul lontar.

Jumlah tersebut di luar lontar-lontar titipan dari masyarakat, lontar-lontar tanpa judul, dan lontar-lontar hasil digitalisasi dari masyarakat.

“Dalam kesempatan ini kami juga menyatakan bahwa kami siap melayani masyarakat yang ingin lontarnya dikonservasi. Mengadopsi pemikiran prodi Sastra Jawa Kuno dan Sastra Bali (Unud), kita setiap minggu mengajak mahasiswa untuk melakukan penulisan dan konservasi. Jadi, mahasiswa belajar mengonservasi lontar, kita juga terbantu untuk memelihara,” tambahnya. (*)

Penulis: I Wayan Sui Suadnyana
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved