Cuma 40 Persen RS Miliki Incinerator, Tak Semua Beroperasi Maksimal

Limbah medis bersifat infeksius, berpotensi besar terkontaminasi bakteri, virus, dan bibit penyakit yang bisa menular melalui tanah udara dan air

Cuma 40 Persen RS Miliki Incinerator, Tak Semua Beroperasi Maksimal
Tribun Bali/I Komang Agus Aryanta
BERISI DARAH - Sampah medis berupa tabung darah, yang masih berisi darah, dan jarum suntik bekas ditemukan di areal TPS Kekeran, Mengwi, Badung, Rabu (23/1/2019). 

Wawancara Khusus Pendiri & Senior Advisor BaliFokus/Yayasan Fokus Nexus 3, Ir Yuyun Ismawati MSc PhD (cand)

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pengawasan terhadap pembuangan limbah medis di Bali dan Indonesia pada umumnya tidak cukup kuat.

Akibatnya, limbah medis kerap dijumpai berceceran, termasuk di pantai-pantai di Bali.

Padahal, limbah medis bersifat infeksius, berpotensi besar terkontaminasi bakteri, virus, dan bibit penyakit yang bisa menular melalui tanah udara dan air.

Berikut ini wawancara dengan Ir Yuyun Ismawati MSc PhD (cand), Pendiri & Senior Advisor BaliFokus/Yayasan Fokus Nexus 3, yang concern pada kesehatan lingkungan.

Apa bahaya limbah medis jika tidak dikelola dengan benar atau dibuang sembarangan?

Kalau limbah medis tidak dikelola dengan benar atau dibuang sembarangan, itu bisa menyebarkan kuman penyakit menular yang mencemari irigasi ataupun kontak langsung.

Limbah medis ini berbahaya karena bersifat infeksius, berpotensi besar terkontaminasi bakteri, virus, dan bibit penyakit yang bisa menular melalui tanah udara dan air.

Bagaimana pengelolaan limbah medis oleh rumah sakit-rumah sakit (RS) di Bali selama ini?

Soal pembuangan limbah medis di Kabupaten Badung dan Bali pada umumnya, memang lemah sekali pengawasannya.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved