Warga Dilarang Membuat dan Mengarak Ogoh-ogoh ini, Sehingga Tak Dinilai Menyimpang

Warga Dilarang Membuat dan Mengarak Ogoh-ogoh ini, Sehingga Tak Dinilai Menyimpang

Warga Dilarang Membuat dan Mengarak Ogoh-ogoh ini, Sehingga Tak Dinilai Menyimpang
Tribun Bali
Ilustrasi ogoh-ogoh 

Dalam pembuatan ogoh-ogoh, kata Dewa Alit, dilarang menggunakan bahan-bahan berbahaya atau merusak lingkungan, seperti plastik, styrofoam dan bahan berbahaya lainnya.

“Diharapkan menggunakan bahan ramah lingkungan. Terkait pengarakan, sedapat mungkin dilakukann di kawasan desa pakrama setempat sampai pada pukul 22.00 Wita. Jika akan melewati kasawan desa pekraman lain, supaya melakukan koordinasi dengan prajuru desa yang dilewati maupun perbekel atau lurah,” ujarnya.

Dewa Alit menegaskan, musik yang mengiringi pegelaran ogoh-ogoh ini, wajib menggunakan gambelan Bali.

Sebab pada Nyepi sebelumnya, terdapat sejumlah pemuda menggunakan musik disco, yang dinilai mengkerdilkan adat dan budaya Bali.

“Kami juga melarang pembunyian alat petasan. Sebab kondisi saat ini sangat sensitif terhadap bunyi menggelegar, dimana hal itu dapat menggangu ketertiban umum,” ujarnya.

Terkait pelaksanaan Nyepi, kata Dewa Alit, di sana telah diatur agar suasana ‘sipeng’ berlangsung selama 24 jam, dari pukul 06.00 Wita.

“Pelaksanaan Catur Bharata Penyepian agar diawasi dengan ketat dan seksama oleh Pecalang Desa/Banjar masing-masing dibawah koordinasi prajuru desa atau adat,” ujarnya. (*)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved