Serba serbi

Banyu Urug, Hindari untuk Membuat Sumur, Telaga, Jalur Air, dan Membuka Air untuk Sawah

Pada hari ini, Kamis (25/1/2019) dalam susunan kalender Bali terdapat Banyu Urung.

TRIBUN BALI/I WAYAN SUI SUADNYANA
Kalender yang disusun oleh Alm. I Ketut Bangbang Gede Rawi dan putra-putranya dan buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pada hari ini, Kamis (25/1/2019) dalam susunan kalender Bali terdapat Banyu Urung.

Hal ini tertulis dalam kalender yang disusun oleh Alm. I Ketut Bangbang Gede Rawi dan putra-putranya.

Dalam buku " Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi" yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga dijelaskan mengenai kehadiran dari Banyu Urung tersebut.

Banyu Urung sebagai ketentuan dewasa yang tidak baik dipakai untuk membuat sumur, telaga, jalur air, membuka air untuk sawah dan sebagainya.

Banyu Urung ini merupakan ala ayuning dewasa berdasarkan pertemuan antara Wuku dengan Saptawara.

Dalam susunan kalender Bali, memang dikenal istilah ala ayuning dewasa yang berarti baik-buruknya suatu hari dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tertentu.

Dewasa atau padewasan yang biasa disebut ilmu wariga ini, seperti yang dijelaskan dalam buku " Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi" yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga tersebut adalah cara untuk mengidentifikasi hari yang baik dan hari yang jelek (buruk).

"Jelasnya (padewasan itu adalah) pengetahuan untuk menentukan hari baik dan hari jelek," tulisnya lagi.

Cakupan mengenai ala ayuning dewasa ini sangatlah luas dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia melalui perhitungan parameter tertentu.

Baca: Kala Katemu dan Kala Dangu Hadir di Kamis Wuku Pujut, Hari Baik Menangkap Ikan dan Berburu

Baca: Budha Wuku Pujut Muncul Kala Gumarang, Hari Baik untuk Menanam Sirih dan Tembakau

Perhitungan yang dimaksud berupa pawintangan yang ditetapkan berdasarkan letak bintang dalam mengelilingi matahari; sasih yang berhubungan dengan penentuan musim berdasarkan peredaran gerak semu matahari dan juga bulan yang mengelilingi bumi; dan wuku tentang ilmu ruas-ruas kumpulan binatang tertentu yang berporos di bumi.

Selain itu, juga berpedoman pada wawaran yakni tentang nama-nama hari dan dedaunan yang dipakai sebagai ilmu pembagian waktu dalam satu hari.

Menurut Ida Pandita Empu Yogiswara di Griya Manik Uma Jati, dalam ala ayuning dewasa ini memang tidak terlepas dari adanya wariga-wariga seperti wuku, ingkel dan di dalamnya terdapat larangan-larangan.

Ida Pandita pun menjelaskan bahwa ala ayuning dewasa ini juga tidak terlepas dari adanya ala ayuning dina (hari), ala ayuning sasih (bulan) dan ada ala ayuning nyet (pikiran).

Jadinya, meski ada larangan-larangan namun jika pelaksana kegiatan memiliki pemikiran yang positif maka hal tersebut boleh dilakukan.

"Sekarang ada ala ayuning nyet. Nyet itu pikiran. Kalau kita memang pikiran itu hening dan tidak akan kena apapun yang namanya musibah itu, itu boleh karena kita yakin," jelasnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved