Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Rumah Duka RSPAD Full Disewa Keluarga Pendiri Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja

Jenazah almarhum Eka Tjipta Widjaja, pendiri Sinar Mas Group disemayamkan di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Soebroto

Tayang:
Kontan
Pendiri Sinar Mas Group, Eka Tjipta Widjaja meninggal dunia. Jenazah almarhum disemayamkan di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Jenazah almarhum Eka Tjipta Widjaja, pendiri Sinar Mas Group disemayamkan di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

Menurut pantauan Tribun pada Minggu (27/1/2019) pagi hingga siang, pelayat terus berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa kepada keluarga Eka Tjipta Widjaja.

Pihak keluarga menyewa enam ruangan berjajar di Rumah Duka Sentosa untuk persemayaman Eka Tjipta Widjaja.

Satu ruangan yaitu ruangan B digunakan untuk persemayaman jenazah Eka Tjipta Widjaja dan para pelayat dipersilakan untuk melihat jenazah.

Sementara ruangan C hingga G disatukan oleh pengelola gedung atas permintaan keluarga untuk tempat menunggu dan menjamu para pelayat.

Nuansa serba putih ditampilkan pihak keluarga di persemayaman Eka Tjipta Widjaja mulai dari dekorasi, tenda, kursi, meja, dan lain-lain dilapisi dengan kain putih.

Para pelayat, terutama dari perusahaan Sinar Mas Group serta keluarga menggunakan pakaian serba putih saat melayat.

Sementara di bagian depan berjajar beberapa karangan bunga yang ditujukan untuk Eka Tjipta Widjaja.

Antara lain berasal dari Presiden Jokowi, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menristekdikti M Nasir, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Kabareskrim Polri Irjen Idham Azis, Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Capres Prabowo Subianto hingga mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Salah satu petugas di Rumah Duka Sentosa RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat menuturkan, saat ini semua ruangan untuk rumah duka penuh dipergunakan oleh keluarga mendiang Eka Tjipta Widjaja. Diketahui, Rumah Duka Sentosa di RSPAD Gatot Subroto memiliki dua lantai.

Untuk biaya persemayaman dikenakan tarif Rp 2 juta untuk lantai atas dan Rp 2,5 juta di lantai bawah.

"Hitungannya per tanggal, yang di bawah Rp 2,5 juta di atas Rp 2 juta," ujar petugas Rumah Duka Sentosa yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Petugas rumah duka Sentosa menyebut keluarga bos Sinar Mas tersebut menyewa penuh semua tempat persemayaman dan kamar menginap.

"Kemarin dan hari ini full semua," ujarnya.

Tidak hanya itu, fasilitas yang diberikan oleh rumah duka Sentosa, ada ruang persemayaman berukuran 4 x 20 meter cukup menampung kurang lebih 200 orang, peti jenazah, mobil ambulans gratis diantar hingga ke lokasi pemakaman serta dekorasi ruangan.

"Ada juga ruang keluarga," ujar petugas tersebut.

Bagi keluarga yang berduka cita dan hendak menginap, rumah duka Sentosa juga dilengkapi fasilitas kamar.

Kamar yang tersedia di antaranya kelas Family Room bertarif Rp 1-3juta. Kamar-kamar tersebut juga penuh disewa oleh keluarga dan kolega mendiang Eka Tjipta Widjaja.

“Untuk jumlah kamar saya enggak tahu pasti, tapi sekitar ratusan, atas dan bawah,” kata petugas tersebut.

Dimakamkan Dekat Istri

Managing Director Sinar Mas Gandi Sulistiyanto mengatakan, mendiang Eka Tjipta akan dimakamkan di pemakaman keluarga yang berada di Desa Marga Mulya, Kabupaten Karawang, Jabar. "Jenazah akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Marga Mulya, Karawang, Jawa Barat, pada hari Sabtu, 2 Februari 2019," kata Gandi.

Gandi mengungkapkan, semasa hidupnya, Eka Tjipta sempat memiliki keinginan untuk dimakamkan di samping istrinya.

 "Beliau sudah siapkan selama ini, makam keluarga dikuburkan di samping istri," ujar Gandi.

Gandi menyatakan, faktor usia dan penurunan kesehatan menjadi penyebab meninggalnya orang terkaya nomor dua di Indonesia tersebut.

Gandi mengatakan Eka Tjipta wafat dalam usia 98 tahun. (tribun network)

Pewaris Kekayaan

Eka Tjipta Widjaja memang tak lagi di garda depan dalam mengembangkan ratusan bisnisnya.

Dia jauh-jauh hari sudah memberikan kepercayaan semua bisnisnya kepada anak-anak dan cucu-cucunya.

Seperti dalam tulisan Kontan.co.id, beberapa tahun lalu, Sinar Mas mengelompokkan ratusan perusahaan ke dalam enam pilar utama bisnis.

Masing-masing pulp and paper, jasa keuangan, pengembang dan real estat serta agribisnis dan makanan.

Dua lini bisnis lagi adalah telekomunikasi serta energi dan infrastruktur.

Anak tertua Eka Tjipta, yakni Teguh Ganda Widjaja memegang pulp and paper.

Franky O. Widjaja menggawangi agribisnis dan makanan.

Lantas, bisnis pengembang dan real estat dikendalikan Muktar Widjaja.

Kalau Indra Widjaja kebagian jasa keuangan.

Anak-anak mereka atau generasi ketiga sudah terlibat menjalankan bisnis bersama-sama.

Hanya bisnis energi dan infrastruktur yang langsung dipegang oleh generasi III.

Fuganto Widjaja, anak Indra Widjaja mengawal bisnis yang antara lain membawahi PT Golden Energy Mines Tbk dan PT Berau Coal Energy Tbk itu.

"Dipilih di antara generasi III. Pak Fuganto dianggap mampu dan bisa menjalankan," terang Gandi Sulistiyanto, Managing Director Sinar Mas Group.

Menjalankan bisnis berbarengan antara generasi II dan III bukan tanpa kendala.

Meskipun pertalian darah mengikat mereka.

Kendala biasanya muncul lantaran faktor latar belakang pendidikan dan komunikasi.

Gaya kepemimpinan generasi III yang berlatar belakang pendidikan di luar negeri, berbeda dengan generasi II.

Namun, klan Eka Tjipta Widjaja sudah sepakat dengan satu hal.

"Kalau sudah diputuskan oleh anak tertua, yang lain mengikuti, walaupun dalam diskusi ada perbedaan pendapat," kata Gandi.

Perlu diketahui, Eka Tjipta Widjaja dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 2 di Indonesia tahun 2018 oleh Forbes.

Eka disebutkan memiliki aset senilai Rp 205 Triliun.

Danjen Kopassus Bergeser, Ini Daftar Lengkap 104 Mutasi Perwira Tinggi TNI Termasuk Pangdam Jaya

Momen Rocky Gerung & Prabowo Subianto Salaman Lihat Senyumannya, Netizen: Presiden Akal Sehat RI

Gosip Ada Reino Barack di Antara Mereka, Bandingkan Rumah Syahrini dan Luna Maya Lihat Kolam Renang

Kisah hidup Eka Tjipta Widjaja

Taipan sukses ini mencapainya bukan tanpa perjuangan.

Tak banyak yang tahu masa lalu Eka Tjipta Widjaja yang memprihatinkan.

Seperti dikutip dari Tribun Timur, Eka Tjipta Widjaja dan ibunya pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1932 saat ia berusia 9 tahun.

Mereka menyusul sang ayah yang sudah migrasi lebih dulu.

Ekonomi keluarganya sangat jauh dari kata layak.

Ayahnya terlibat utang pada rentenir dan tak mampu membayar bunga yang sangat tinggi.

Eka Tjipta Widjaja akhirnya tak bisa melanjutkan sekolah sehingga hanya punya ijazah SD.

Ia bertekad untuk bisa membantu ayah dan ibunya.

Eka Tjipta Widjaja dan ayahnya mulai berjualan permen dan biskuit keliling Makassar.

Eka Tjipta Widjaja berjualan dari pintu ke pintu.

Menaiki sepeda, ia akan berhenti dan mengetuk pintu rumah calon pembeli tanpa kenal lelah.

Eka Tjipta Widjaja yang kala itu berusia 15 tahun ternyata bisa meringankan beban utang keluarganya dari hasil jualan biskuit dan permen.

Eka Tjipta Widjaja menabung sebagian keuntungannya untuk tambahan modal.

Tak puas dengan berjualan keliling, Eka membeli alat membuat kembang gula di rumah.

Dia mulai memproduksi sendiri kembang gulanya.

Pada masa penjajahan Jepang, Eka bekerja sama dengan CIAD (Corp Intendands Angkatan Darat) .

Dia menjual kopra pada mereka.

Namun, Jepang mengeluarkan kebijakan monopoli kopra dan bisnis Eka terhenti.

Eka Tjipta Widjaja kembali bangkrut.

Punya prinsip tak mau menyerah, Eka kembali menjajal bisnis baru.

Ia beralih ke usaha bahan-bahan keperluan makanan, bangunan, dan kebutuhan harian.

Tahun 1950 lagi-lagi usahanya terhenti karena dirampas saat peristiwa Permesta.

Saat usianya 37 tahun, Eka Tjipta pindah ke Surabaya.

Dia mencoba bisnis kebun kopi dan kebun karet di daerah Jember.

Eka Tjipta Widjaja mendirikan CV Sinar Mas dan mulai berbisnis membuat bubur kertas dari sisa-sisa pengolahan karet.

Seiring perkembangan bisnisnya, Eka mendirikan PT Tjiwi Kimia pada 1976.

Perusahaan ini bergerak di bidang bahan kimia.

Pada tahun 1980, Eka bisa membeli 10 ribu hektar kebun kelapa sawit di Riau.

Tahun 1982, Eka Tjipta Widjaja membeli Bank International Indonesia (BII) yang dan memulai bisnis propertinya dengan nama Sinar Mas Group.

Hingga kini, Eka Tjipta Widjaja mungkin telah mengalami puluhan kali jatuh dan bangkit lagi.

Hasilnya, saat ini Eka Tjipta Widjaja ada di posisi dua sebagai orang terkaya di Indonesia.

Eka Tjipta Widjaja punya prinsip hidup jujur, bertanggung jawab, baik pada keluarga, pekerjaan dan lingkungan.

Eka Tjipta Widjaja juga tak suka berfoya-foya dan selalu berusaha hidup hemat.

Dari perjuangan Eka Tjipta Widjaja si pemilik Sinar Mas Group ini, kita bisa belajar bahwa sukses memang bukan suatu hal yang instan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved