Liputan Khusus

Turis Asing pun Sempat Bertanya, Estetika Kota di Tengah Tebaran Baliho dan Poster Caleg

Ratusan gambar wajah caleg (calon anggota legislatif), mulai dari DPRD tingkat kota sampai DPR dan DPD RI, memenuhi hampir setiap persimpangan

Turis Asing pun Sempat Bertanya, Estetika Kota di Tengah Tebaran Baliho dan Poster Caleg
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Sejumlah alat peraga kampanye tumbang diterpa angin di seputar Bundaran Renon, Denpasar, pekan lalu dan sempat dibiarkan selama beberapa hari. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ratusan gambar wajah caleg (calon anggota legislatif), mulai dari DPRD tingkat kota sampai DPR dan DPD RI, memenuhi hampir setiap persimpangan jalan di Kota Denpasar dan sekitarnya.

Dengan ekspresi tersenyum, gambar para caleg yang terpajang di baliho-baliho dan poster itu, di bagian bawah atau atasnya pada umumnya tertulis `mohon doa restu dan dukungannya`.

Di persimpangan Jalan Tohpati-Gatsu-WR Supratman, Denpasar misalnya, baliho para caleg seakan berebut posisi strategis. Pun begitu di persimpangan-persimpangan jalan lainnya.

Kesannya, estetika atau keindahan di persimpangan jalan itu pun jadi agak terganggu, karena tidak semua baliho terpasang dengan baik.

Ada yang miring, juga ada yang robek sebagian. Bahkan, saat terjadi hujan dan angin kencang pekan lalu, sejumlah baliho caleg di persimpangan jalan tumbang, dan tinggal kerangkanya saja karena gambarnya entah kemana.

Pemandangan seperti ini, ada yang dibiarkan berhari-hari, contohnya di kawasan Bundaran Renon, Denpasar.

"Seharusnya Bali lebih sigap. Bukan membiarkan baliho-galiho yang semrawut itu berhari-hari. Tidak sedap dipandang kalau begini," kata seorang warga negara asing bernama Rosaline kepada Tribun Bali pekan lalu.

Dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) No 23 Tahun 2018 tentang Kampanye Pemilihan Umum pasal 34 ayat 5 disebutkan, pemasangan alat peraga kampanye dilaksanakan dengan mempertimbangkan etika, estetika, kebersihan, dan keindahan kota atau kawasan di mana alat peraga kampanye tersebut dipasang. Namun kenyataan di lapangan, faktor estetika atau keindahan itu kurang diperhatikan.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Pariwisata (ASITA) Provinsi Bali,  I Ketut Ardana mengungkapkan, para wisatawan asing memang ada yang menanyakan ke guide soal banyaknya baliho caleg di Bali.

Namun, para wisatawan kemudian dapat memaklumi, karena guide sudah menjelaskan sistem dan situasi politik di Indonesia, khususnya di Bali.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved