Breaking News:

Bali Akan Tambah 10 Sirine Tsunami, Berikut Lokasinya

Pulau Bali dikelilingi oleh pantai sehingga rentan terjadi bencana tsunami karenanya Pemprov Bali melalui BPBD Bali mengusulkan penambahan 10 sirine

BPBD Prov. Bali
Plt Kalaksa BPBD Provinsi Bali, Dewa Putu Mantera berkonsultasi ke Kantor BNPB Pusat terkait permohonan 10 sirine tsunami atau Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina - TEWS), di Jakarta, Senin (28/1/2019) 

TRIBUN-BALI. COM, DENPASAR - Pulau Bali dikelilingi oleh pantai sehingga rentan terjadinya bencana tsunami.

Oleh karena itu Pemprov Bali melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mengusulkan penambahan 10 sirine tsunami atau Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina - TEWS) ke Pemerintah pusat.

Rencananya 10 sirine tersebut akan ditempatkan lima di Bagian Barat, yaitu Pantai Candi Kusuma, Pantai Yeh Embang, Pantai Surabrata, Pantai Yeh Gangga, Pantai peti Tenget.

Sedangkan lima sirine lagi ditempatkan di Bagian Timur yaitu Pantai Lebih, Pantai Kusamba, Pelabuhan Padang Bai, Pantai Candi Dasa, dan Pantai Jasi.

Sedangkan sembilan titik sirine yang sudah terpasang selama ini berada di Sanur, Kedonganan, Tanjung Benoa, Seminyak, BTDC Nusa Dua, Kuta, Pulau Serangan, Seririt, Tanah Lot.

Sebelumnya, pada Sabtu (26/1/19) bertempat di Jaya Sabha, Gubernur dan Wakil Gubernur Bali  menerima audiensi dari Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, M. Taufik Gunawan melaporkan  tentang perubahan iklim di Bali dan cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini. 

 
Plt Kalaksa BPBD Provinsi Bali, Dewa Putu Mantera yang juga hadir pada kesempatan itu, dalam dialog dengan Bapak Gubernur sempat melaporkan tentang keberadaan sirine tsunami yang baru tersedia di sembilan titik, dan rencana mengajukan permohonan tambahan sepuluh sirine tsunami ke Pemerintah Pusat melalui BNPB. 

 
“Bapak Gubernur merespons, silakan pengajuan itu dilanjutkan, tetapi jika tidak ada kepastian dari pemerintah pusat, ke depan perlu dikaji untuk dianggarkan dari APBD,” Kata Dewa Mantera dalam siaran persnya, Senin (28/1/2019).

Baca: Cerita Orangtua Korban Tsunami Harus Bayar Rp 17 Juta, RSKM Cilegon Tak Terima Disebut Pungutan

Baca: BMKG akan Kembangkan MEWS, Sistem Peringatan Dini Bencana Pesisir

Baca: Bencana Longsor Kerap Terjadi, Ini Imbauan Cok Ace

 
Selanjutnya Plt Kalaksa BPBD Provinsi Bali menindaklanjuti permohonan tersebut dengan melakukan konsultasi ke BNPB yang bertempat di Graha BNPB Jalan Pramuka Jakarta Timur, Senin (28/1/2019).

“Saya menemui secara langsung Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho,” ucapnya.

 
Dalam pertemuan tersebut disampaikan berbagai hal yakni, pertama, secara penganggaran tahun 2019 memang belum ada di BNPB, tetapi surat permohonan tersebut akan tetap diajukan kepada pimpinan, yaitu kepala BNPB.

 
Kedua diharapkan kepada BPBD Provinsi Bali membangun lebih banyak sirine Ina-TEWS untuk penguatan kesiapsiagaan, dengan sinergi antara dunia usaha dan masyarakat yang dapat berupa pembangunan sirine di hotel dan tempat ibadah.

Pembangunan dibuat dengan mengedepankan biaya murah namun handal dalam kebencanaan, anggarannya dapat bersumber dari dana desa atau CSR dari dunia usaha.

 
Ketiga, bentuk sirine yang murah dan handal dalam kebencanaan yang pernah dibangun oleh BNPB di beberapa daerah seperti Bantul, Sumbar, dengan teknologi radio total 160 unit yang telah dibangun pada tahun  2014, dengan harga per unit Rp 70 juta sampai dengan Rp 100 juta, namun saat ini kondisinya ada yang rusak.

 
Keempat, BNPB menyarankan agar di Bali dibangun museum kebencanaan sebagai wadah edutainment (pendidikan sekaligus rekreasi) bagi masyarakat baik anak-anak maupun dewasa serta dapat menjadi destinasi (obyek) wisata baru di Bali. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved