Gerabah Binoh dari Zaman Penjajahan Belanda Terancam Punah karena Tak Ada Regenerasi

Wayan Lati (70) tengah suntuk memutar pengenyunan atau alat yang digunakan untuk membuat gerabah secara manual.

Gerabah Binoh dari Zaman Penjajahan Belanda Terancam Punah karena Tak Ada Regenerasi
Tribun Bali/I Putu Supartika
Wayan Sukerni saat membuat gerabah, Selasa (29/1/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Wayan Lati (70) tengah suntuk memutar pengenyunan atau alat yang digunakan untuk membuat gerabah secara manual.

Senyumnya mengembang menyambut kedatangan Tribun Bali, Selasa (29/1/2019) siang.

Meski kulitnya telah keriput dan umurnya tak muda lagi, namun perempuan yang telah memiliki cicit ini masih semangat untuk bekerja.

Dari seonggok tanah liat ia ubah jadi berbagai macam jenis gerabah.

Dan ketika itu ia mengaku sedang membuat gerabah jenis pane.

Ia bekerja pada pemilik usaha pembuatan gerabah milik Nyokan Sulasmi yang ada di Jalan Warmadewa, Gang IIA, Banjar Binoh Kaja, Ubung, Denpasar.

"Saya dari kecil sudah bisa buat gerabah. Saya tidak punya orangtua karena meninggal saat saya masih kecil, dan saya juga tak bisa membaca," akunya kepada Tribun Bali, sambil membentuk gumpalan tanah liat menjadi gerabah.

Dengan telaten, tanah liat yang awalnya berbentuk kepalan disulap jadi gerabah dengan teknik sangat sederhana dan semuanya dikerjakan dengan tangan.

Kepalan tanah ditaruh di atas pengenyunan yang telah dialasi papan berbentuk bulat pipih.

Halaman
1234
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved