Serba Serbi

Buda Kliwon Pahang, Akhir dari Perayaan Galungan

Pegatwakan ini jatuh setiap 210 hari atau setiap enam bulan sekali tepatnya pada Buda (Rabu) Kliwon wuku Pahang atau 35 hari setelah Galungan.

Buda Kliwon Pahang, Akhir dari Perayaan Galungan
Tribun Bali/Eurazmy
(ilustrasi) Lontar Pusat Kajian Lontar FIB Universitas Udayana menunjukkan teks lontar usada, Kamis (29/3/2018) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Hari ini, Rabu (30/1/2019) merupakan hari raya Pegatwakan.

Pegatwakan ini jatuh setiap 210 hari atau setiap enam bulan sekali tepatnya pada Buda (Rabu) Kliwon wuku Pahang atau 35 hari setelah Galungan.

Pada hari ini merupakan rangkaian terakhir dari Hari Raya Galungan atau menandai berakhirnya rangkaian Hari Raya Galungan.

Saat ini pula, penjor Galungan yang dipasang di depan rumah akan dicabut.

Segala hiasannya dijadikan satu dan dibakar.

Abunya tersebut dimasukkan ke dalam klungah nyuh gading makasturi serta ditanam di lubang tempat pemasangan penjor.

Penjelasan tentang hari raya Pegatwakan ini termuat dalam Lontar Sundarigama, yaitu sebagai berikut.

Pahang, Buda Kliwon Pegatwakan, ngaran, pati warah panelasning mengku, biana semadi, waraning Dungulan ika, wekasing perelina, ngaran kalingan ika, pakenaning sang wiku lumekasang kang yoga semadi, umoring kala ana ring nguni, saha widi-widana sarwa pwitra, wangi-wangi, astawakna ring sarwa dewa, muang sesayut dirgayusa abesik, katur ring Sang Hyang Tunggal, panyeneng tatebus.

Artinya:

Buda Kliwon Pahang merupakan Hari Raya Pegatwakan. Disebut Pegatwakan karena saat itu adalah berakhirnya tapa brata.

Sang wiku patut melaksanakan renungan suci. Sarananya yaitu wangi-wangian dan sesayut dirgayusa dan dipersembahkan kehadapan Sang Hyang Tunggal, dan dilengkapi juga dengan penyeneng dan tetebus.

Selain itu, dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu yang dikeluarkan oleh PHDI disebutkan Budha Keliwon Pahang atau Pegat Wakan atau Pegat Warah adalah akhir dari pada melakukan Tapa Brata.

Juga merupakan akhir dari pelaksanaan Kegiatan Galungan, pewarah Bhatara
Durgha kepada Sri Jayakasunu sebagaimana yang termuat dalam Lontar Jayakusuma.

Dan juga warah Sang Hyang Suksma Licin kepada para Pendeta sebagaimana termuat dalam Lontar Sundarigama. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved