Berawal dari 5 Batang Pohon Pisang, Tukang Becak Renta Jadi Pesakitan Hadapi Meja Hijau

Gara-gara mencabut lima batang pohon pisang, warga asal Dusun Duwek Tinggi, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan,

Berawal dari 5 Batang Pohon Pisang, Tukang Becak Renta Jadi Pesakitan Hadapi Meja Hijau
tribun madura/Kuswanto Ferdian
Kenyataan pahit dirasakan pria renta Padla (65). Gara-gara mencabut lima batang pohon pisang, warga asal Dusun Duwek Tinggi, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, terpaksa berurusan dengan penegak hukum. 

Berawal dari 5 Batang Pohon Pisang, Tukang Becak Renta Jadi Pesakitan Hadapi Meja Hijau

TRIBUN-BALI.COM, PAMEKASAN - Kenyataan pahit dirasakan pria renta Padla (65).

Gara-gara mencabut lima batang pohon pisang, warga asal Dusun Duwek Tinggi, Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, terpaksa berurusan dengan penegak hukum.

Pasalnya, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak tersebut diajukan ke persidangan oleh jaksa penuntut umum melalui kuasa penyidik Satreskrim Polres Pamekasan.

Padla menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Pamekasan.

Baca: Pesta Seks 8 Muda-mudi di Kamar Kosan Digerebek, 1 Orang Hamil 2 Bulan, 5 Positif Pakai Sabu

Berdasarkan informasi yang dikutip Tribun-Bali.com dari Tribunmadura.com, penyidik Satreskrim Polres Pamekasan diberikan kuasa oleh jaksa penuntut umum mengajukan tindak pidana ringan yang dilakukan Padla ke Pengadilan Negeri Pamekasan.

Sebelumnya, Padla dilaporkan dengan dugaan pengrusakan dan penyerobotan tanah sebagaimana dimaksud dan diatur dalam pasal 406 KUHP dan peraturan pemerintah no 51 tahun 1960.

Marsuto Alfianto, Ketua Lembaga Bantuan Hukum Pusat Advokasi Masyarakat Nusantara (LBH PUSARA) sekaligus penasehat hukum terdakwa mengatakan, dirinya tidak tega melihat Padla berurusan dengan hukum.

Padahal terdakwa hanya mencabut pohon pisang yang dia klaim masih tanah miliknya.

“Tanah yang ditanami pohon pisang oleh Padla diklaim masih milik putranya yakni Harun, dan Harun sebagai pemilik tidak merasa tanah tersebut dijual kepada pelapor,” ujarnya kepada Tribunmadura.com, Jumat (1/2/2019).

Marsuto mengaku, bersama tim dari LBH PUSARA akan terus membela dan menegakkan kebenaran, agar majelis hakim menjatuhkan pidana yang seadil-adilnya.

“Kami akan melakukan upaya gugatan hukum keperdataan mengenai sertifikat yang dimiliki pelapor,” tegasnya.

Pantauan Tribunmadura.com, di ruang persidangan tampak istri Padla turut menemaninya dan meneteskan air mata.

Diketahui, Istri Padla tidak bisa melihat alias buta. (*)

Artikel ini ditulis Kuswanto Ferdian telah tayang di Tribunnews.com

Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved