MUDP Atur Persyaratan Pembuatan Ogoh-ogoh, Gandeng KPU dan Bawaslu Awasi Pelaksanaannya

MUDP Provinsi Bali, Jero Gede Suwena Putus Upadesha mengimbau pembuatan ogoh-ogoh tersebut harus sesuai dengan beberapa ketentuan serta persyaratan

MUDP Atur Persyaratan Pembuatan Ogoh-ogoh, Gandeng KPU dan Bawaslu Awasi Pelaksanaannya
TRIBUN BALI/RIZAL FANANY
Teruna Tunjung Mekar merakit kerangka ogoh-ogoh bertema Manuk Danawa di Banjar Abian Nangka Kelod, Desa kesiman petilan,Denpasar, Sabtu (19/1/2019). Dinas kebudayaan Provinsi Bali menghimbau peserta pembuat ogoh-ogoh tidak nyleneh dan berbau politik. Memasuki tahun politik 2019 ini, Pemkot Denpasar tetap akan menyelenggarakan pawai ogoh-ogoh pada malam Tawur Agung Kesanga sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi mendatang. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) menyatakan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi khususnya pada saat pengerupukan atau tawur kesanga sudah ada suatu rekomendasi kepada masing-masing desa pakraman, baik dari media cetak maupun elektronik, serta surat edaran dari PHDI maupun MUDP, bahwa ogoh-ogoh diperkenankan untuk dibuat sebagaimana dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Namun Ketua MUDP Provinsi Bali, Jero Gede Suwena Putus Upadesha mengimbau pembuatan ogoh-ogoh tersebut harus sesuai dengan beberapa ketentuan serta persyaratan, diantaranya pertama, bahan-bahan pembuatan ogoh-ogoh tidak terbuat dari plastik maupun zat-zat kimia, termasuk juga styrofoam.

Kedua, tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai norma adat istiadat, budaya dan agama.

“Jangan sampai nanti membuat gambar orang tertentu kemudian disimbolkan,” kata Jero Gede saat ditemui di Gedung Ksirarnawa, Art Center Denpasar, Jumat (1/2/2019).

Ketiga, agar membuat ogoh-ogoh yang tidak ada kaitan dan hubungannya dengan politik atau segala hal yang berhubungan dengan Pilpres maupun Pileg 2019.

Baca: Berikut Ini 4 Zodiak yang Paling Tidak Percaya Diri dan Mudah Terpengaruh

Baca: SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming Bali United Vs Blitar United, Teco Tak Mau Anggap Remeh

Baca: Kulkas Polytron New Belleza Inverter Hadir Menjawab Semua Kebutuhan Rumah Tangga Anda

“Kami nanti bekerja sama dengan KPU, Bawaslu bagaimana nanti mengawasi pelaksanaan ogoh-ogoh ini kaitannya dengan Pilpres dan Pileg serentak tahun 2019 ini,” terangnya.

Keempat, jangan sampai menimbulkan permasalahan seperti pelanggaran, keamanan dan ketertiban di masyarakat.

Selanjutnya, terkait penggunaan sound system saat pengarakan ogoh-ogoh, pihaknya menyatakan tidak masalah sepanjang tidak menimbulkan gangguan di masyarakat, misalnya menyetel dengan suara yang besar.

Jero Gede juga mengimbau agar jangan melakukan pesta pora setelah selesai mengarak ogoh-ogoh, seperti minum-minuman beralkohol, membuat kegaduhan dan sebagainya.

“Tujuan pembuatan ogoh-ogoh adalah nyomia bhuta kala dan hal-hal negatif yang merusak tatanan Bali, sehingga jangan dalam proses itu justru menimbulkan kegaduhan, kemudian merugikan integritas agama Hindu di Bali dan khususnya Bali itu sendiri,” tuturnya.

Baca: TRIBUN WIKI - Wajib Tahu! 14 Rekomendasi SPBU Jual Koran Tribun Bali, Ada SPG-nya Juga, lho

Baca: Miliki Satwa Langka, Ketut P Diamankan, BKSDA: Kecil Kemungkinan Dia Tak Tahu Satwa Itu Dilindungi

Baca: Ugal-ugalan di Jalan, Remaja 13 Tahun Dipanggil Polresta Denpasar, Mediasi & Diberi Pembinaan

Halaman
123
Penulis: Wema Satya Dinata
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved