Dharma Wacana
Kekeliruan Mengarak Ogoh-ogoh
Ogoh-ogoh ini biasanya diarak saat malam atau setelah warga selesai menggelar pecaruan, baik di rumah masing-masing, catus pata dan sebagainya
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Budiarti
Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selama ini, ogoh-ogoh di Bali sebagian besar mengambil bentuk raksasa, yang merupakan simbol keangkaramurkaan.
Pengarakan ogoh-ogoh biasanya dilakukan usai digelarnya Tawur Kesanga atau ‘Nyomyang Bhuta’.
Dengan mengarak ogoh-ogoh raksasa usai pecaruan, apakah hal tersebut tak membangkitkan Bhuta Kala yang telah disucikan dalam pecaruan?
Kalau kita telisik dari segi waktu atau proses urutan ritual, ogoh-ogoh ini biasanya diarak saat malam atau setelah warga selesai menggelar pecaruan, baik di rumah masing-masing, catus pata dan sebagainya.
Perlu diketahui, setelah menggelar ritual ini, maka itu artinya bahwa Bhuta Kala sudah somya.
Karena itu, seharusnya sudah tidak ada lagi aktivitas yang bersifat material.
Baca: JADWAL DAN PANDUAN Pendaftaran SNMPTN 2019 di snmptn.ac.id, Pelajari 5 Kunci Suksesnya
Baca: Banyak Anak Muda Ikut Tanda Tangan, SJB Gelar Penggalangan Cabut Remisi Susrama di Car Free Day
Lalu, kenapa kita justru kembali mengarak ogoh-ogoh, apalagi yang bentuknya menyerupai raksasa?
Menurut saya, ini merupakan sebuah penyimpangan dari ritual Tawur Kesanga.
Penyimpangan akan semakin besar jika saat mengarak ogoh-ogoh terjadi pertikaian antar desa.
Belum lagi, usai diarak, ogoh-ogoh tersebut dibiarkan begitu saja, tanpa dibakar.
Kan percuma kita mecaru dari pagi sampai sore, tapi setelah itu kita kembali menodai alam dengan sifat bhuta kala.
Kalau memang ingin ada arakan ogoh-ogoh di malam hari, seharusnya pecaruan dilakukan usai pengarakan ogoh-ogoh.
Baca: Kisah Cinta Penyandang Disabilitas dengan WNA Jerman, Ketut Raka Disebut Wanita Sempurna
Baca: Quotes Romantis Valentine Day! Bukan Cuman Berlaku Bagi yang Berpasangan, Buat Jomblo Juga kok
Saat ini kondisinya terbalik, mecaru duluan baru mengarak ogoh-ogoh.
Inilah yang saya nilai tumpang tindih terhadap konsep ritual Tawur Kesanga.
Apakah sama sekali tidak boleh mengarak ogoh-ogoh usai mecaru?
Tetap bisa.
Tapi, bentuk ogoh-ogohnya jangan yang berbentuk raksasa atau yang menyimbolkan keangkaramurkaan.
Namun ogoh-ogoh yang humanis, seperti Panca Pandawa, Sri Rama dan karakter lainnya yang merupakan simbol dharma (kebaikan).
Hal tersebut dapat dimaknai, sifat-sifat bhuta kala telah dilenyapkan dan lahirlah sifat kedewataan.
Atau bisa juga membuat ogoh-ogoh yang menceritakan tentang kekalahan adharma melawan dharma.
Baca: Banjir Order karena DBD, Kisah Heru Budidayakan Ikan Cupang Hingga Raih Omset Belasan Juta
Baca: Hilang Sejak 14 Januari Lalu, Bocah Perempuan Ini Ditemukan Tewas dengan Tubuh Tak Utuh
Salah satu cerita yang tepat adalah matinya Hiranyakasipu.
Pegelaran ini sangat tepat dilakukan ketika sandikala.
Jadi kalau ada satu ogoh-ogoh dengan karakter Bhuta Kala saja, itu merupakan penyimpangan dari Tawur Kesanga.
Marilah semua pihak, baik itu prajuru adat hingga para juri dalam pawai ogoh-ogoh, supaya mempertimbangkan aspek ini.
Sebab, jangan sampai ritual kita yang suci justru ternodai oleh ketidaktahuan kita.
Ini bukanlah suatu wacana ‘nyerem-nyerem’ atau menakut-nakuti masyarakat, atau ingin merombak sebuah tradisi atau kebiasaan yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Namun kalau kita melihat ke belakang, banyak generasi muda yang menjadi korban, dan banyak permusuhan antar desa adat yang tersulut ogoh-ogoh.
Kemungkinan besar, hal tersebut terjadi lantaran selama ini kita salah waktu hingga kesalahan mengambil karakter dalam mementaskan ogoh-ogoh. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pawai-ogoh-ogoh-dilarang-keras-nyrempet-politik-sara.jpg)