Demi Keselamatan Penumpang, BSN Tetapkan SNI Perkeretaapian

Proses yang ditetapkan di dalam SNI memiliki asumsi bahwa pelaku usaha perkeretaapian dan industri pendukung perkeretaapian memiliki kebijakan

Demi Keselamatan Penumpang, BSN Tetapkan SNI Perkeretaapian
Humas BSN
BSN saat menetapkan SNI Perkeretaapian 

Laporan wartawan Tribun Bali, Karsiani Putri

TRIBUNBALI.COM, DENPASAR - Kereta api merupakan jenis moda transportasi yang diminati banyak orang di Indonesia.

Selain dari sisi waktu bisa diandalkan ketepatannya, pelayanan yang diberikan juga semakin baik.

Namun demikian, kereta api pun memiliki resiko kecelakaan, seperti moda transportasi lainnya.

Teknologi yang berkembang pesat diharapkan dapat meningkatkan mutu, efisiensi dan keselamatan dari penumpang, pekerja, sarana dan prasarana perkeretaapian.

Sejalan dengan itulah dan untuk melindungi keselamatan pengguna kereta api, Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui Komite Teknis 45-01 : Sarana Perkeretaapian dan Komite Teknis 45-02 : Prasarana Perkeretaapian, telah menyusun 2 standar terbaru tentang perkeretaapian, yaitu SNI IEC 62278:2002 Aplikasi Perkeretaapian-Spesifikasi dan Demonstrasi RAMS (Reliability, Availability, Maintainability dan Safety) sesuai dengan keputusan Kepala BSN, Nomor: 532/KEP/BSN/12/2018 dan SNI 8633:2018 Spesifikasi Balas, Sub Balas, dan Lapisan Dasar (Sub Grade) untuk jalur kereta api sesuai dengan keputusan Kepala BSN, Nomor: 411/KEP/BSN/12/2018.

Dalam berita rilis yang diterima Tribun Bali pada Selasa (5/2/2019), Direktur Pengembangan Standar Mekanika Energi, Elektronika, Transportasi dan Teknologi Informasi Badan Standardisasi Nasional (BSN), Yustinus Kristianto Widiwardono di Jakarta (04/02/2019) menerangkan, SNI IEC 62278:2002 merupakan SNI hasil adopsi identik dengan standard IEC/International Electrotechnical Commsission.

“Standar Internasional ini memberikan pedoman kepada pelaku usaha perkeretaapian dan industri pendukung perkeretaapian sebuah proses yang akan memungkinkan penerapan pendekatan yang konsisten pada manajemen RAMS/Reliability, Availability, Maintainability dan Safety atau diterjemahkan sebagai keandalan, ketersediaan, perawatan dan keselamatan serta interaksinya,” jelasnya.

Baca: 20 Finalis Startup Transhub Challenge Kembangkan Ide Bisnis Bidang Transportasi

Baca: Singgung Banyaknya Kendaraan Pribadi di Bali, Kapolri Ajak Maksimalkan Transportasi Publik

Standar ini, lanjutnya, akan mendorong kerja sama antara pelaku usaha perkeretaapian dan industri pendukung perkeretaapian di dalam berbagai strategi pengadaan, untuk mencapai kombinasi yang optimal antara RMAS dan biaya untuk aplikasi perkeretaapian.

“Proses yang ditetapkan di dalam SNI memiliki asumsi bahwa pelaku usaha perkeretaapian dan industri pendukung perkeretaapian memiliki kebijakan tingkat-bisnis yang mengatur kualitas, kinerja dan keamanan,” ujar Kristianto.

Halaman
12
Penulis: Karsiani Putri
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved