Aktivis Perlindungan Anak Bali Desak Polda Ungkap Kasus Paedofilia di Ashram Klungkung

Setelah mendengarkan pemaparan dari para saksi yang diundang ke Kantor DPRD Bali, Selasa (12/2), kasus paedofilia yang melibatkan seorang tokoh

Aktivis Perlindungan Anak Bali Desak Polda Ungkap Kasus Paedofilia di Ashram Klungkung
Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Anggota SWAP, Dwitra J Aryana (kanan), berbicara saat pertemuan di Komisi IV DPRD Bali, Selasa (12/2/2019). SWAP berkomitmen melawan kejahatan paedofilia. 

Mereka juga membenarkan ada salah satu korban yang hadir kala itu.

Namun Sukawati mengaku datang telat sehingga tidak mengetahui persis siapa korban yang dimaksud.

"Saya memang hadir di sana, tapi saya tidak sadar bahwa itu adalah korban," kata Sukawati.

Budawati saat diberikan kesempatan berbicara membenarkan bahwa pada 2015 silam memang sempat didatangkan salah satu korban di rumah Prof Suryani.

"Iya memang benar ada satu korban di sana. Saya lihat langsung dan hadir di sana," kata Budawati.

Prof Suryani Tak Hadir

Sayangnya, Prof Suryani yang sebetulnya menjadi kunci dalam kasus ini tidak hadir pada pertemuan di DPRD Bali kemarin.

Padahal Komisi IV DPRD Bali sudah mengirim surat undangan kepada dirinya.

"Saya sudah undang Prof Suryani tapi tidak datang sekarang. Saya pikir beliau memang tidak kapasitasnya berbicara di sini, mungkin kalau dipanggil kepolisian baru beliau mau bicara," kata Parta.

Untuk diketahui, waktu pertemuan tahun 2015 di rumah Prof Suryani, ada empat dokumen tertulis yang salah satunya berisikan pernyataan dari pendiri ashram, GI.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved